>>> 000000

header
home   whats on   news   forum   resource and info   community   directory   distribution   inspired kids club
 
  babies   toddlers     tweens   teens   twins   adoption   preemies   specialneeds
     
 
 
 
 
 
 
 
This is Inspiredkidsmagazine.com Counter Hit List
 
   
  Children

Mendampingi anak dalam perjalanan masa tumbuh kembangnya untuk menjadi generasi yang unggul secara fisik dan mental adalah aktivitas yang sangat menantang. Perasaan senang, bahagia, tegang, cemas, dan berbagai peprsaaan lain berkecamuk, datang silih berganti. Tak jarang muncul masalah dan pertanyaan yang membingungkan, namun menantang untuk segera dicari jawabannya. Melalui Inspired Kids, para pakar yang budiman akan membantu orangtua untuk mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan seputar pengasuhan dan pendidikan anak, sejak janin hingga masuk usia remaja.

                     
  Pregnancy Babies Toddlers Children Tweens Teens Twins Adoption Preemies Special Needs
 
   
 

Belum Bertanggungjawab

Anak saya sudah kelas 5 SD, tetapi belum memiliki rasa tanggung jawab untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Mohon solusinya.

Kartikasari Jamal Bintaro Jaya


Jawaban :

Perkembangan tanggung jawab pada anak sebenarnya harus dilatih sejak dini. Ada beberapa faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya kemampuan tanggung jawab ini pada seorang anak. Faktor utama adalah konsistensi dan kemandirian. Penerapan disiplin akan sangat berkaitan dengan perkembangan tanggung jawab. Orangtua harus konsisten dalam mengontrol kegiatan yang harus dilakukan oleh anak sebagai bentuk dari tanggung jawab dan kemandiriannya. Proses ini lebih bersifat habituasi (pembiasaan). Mulailah dari tugas-tugas yang sederhana, misalnya yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Jangan lupa untuk melakukan pengecekan akan tugas yang diberikan. Berikan juga tugas-tugas rumah tangga yang sekiranya bisa dilakukan oleh anak. Berikan pujian untuk perilaku yang dipenuhi kewajibannya oleh anak.

Alzena Masykouri, MPsi, Klinik Kancil





Takut Keramaian

Anak laki-laki saya, 3,5 tahun, takut dengan keramainan (tempat umum). Gejalanya mulai keliatan waktu si kecil dibawa ke ulang tahun temannya, (kira kira umur 1,5 tahun),keringat dingin keluar dan keesokan harinya waktu melewati rumah teman yg ulang tahun, dia kelihatan ketakutan (mukanya ditutup) sambil berlar. Sekarang lebih parah lagi. Kalau diajak ke tempat ramai si kecil menolak. Mohon bantuan mengatasinya.

Andreas Widi Pondok Aren, Tangerang


Jawaban :

Tempat yang ramai memang seringkali menyeramkan buat anak. Reaksi yang ditunjukkan pun bermacam-macam, termasuk seperti ananda yang akhirnya menolak ke tempat keramaian. Perlu dicari penyebabnya terlebih dahulu, apakah ananda takut dengan orang asing, atau tidak nyaman dengan tempat baru, atau tidak nyaman berada di tempat dengan suara keras atau bising? Setelah diketahui penyebabnya, ananda dapat dilatih untuk mulai meningkatkan toleransi dan mengatasi kecemasan yang melandanya. Misalnya, dengan dipeluk oleh orangtuanya sampai ananda merasa nyaman dan mau berinteraksi dengan orang lain, atau dengan menggandeng tangan orang tua sampai ananda merasa siap untuk berinteraksi. Tetaplah untuk terus mencoba membawa ananda ke tempat-tempat umum. Mulailah dari tempat yang tenang terlebih dahulu dengan tetap mendampingi ananda sampai ananda merasa siap.

Alzena Masykouri, M. Psi





Flek Paru

Anak saya didiagnosa terkena flek paru melalui tes darah dan foto rontgen. Setelah 6 bulan pengobatan, kemudian tes darah dan rontgen lagi, ternyata masih ditemukan corak di parunya. Apakah obat tetap diteruskan? Berpengaruhkah pada perkembangan otak dan dan motorik selanjutnya? Berbahaya atau tidak? Selama ini ia diberi INH dan vit B6 dalam bentuk puyer dengan profilas sirup.

Andani Dukuh MJ, Yogyakarta


Jawaban :

Pada anak, diagnosis flek paru atau tuberkulosis paru ditegakkan melalui pemeriksaan uji mantoux/uji tuberkulin, foto rontgen raru dan pemeriksaan darah. Diagnosis akan lebih pasti bila pada pemeriksaan kultur cairan lambung ditemukan mycobacterium tuberculosis yaitu kuman penyebab infeksi tuberkulosis tersebut. Pada pasien yang sudah didiagnosis paru biasanya diberi OAT (obat anti tuberkulosis). Pengobatan tersebut dapat berlangsung 6-9 bulan. Bila kelainan hanya terbatas pada infeksi paru, biasanya pengobatan dapat dilakukan dengan sempurna tanpa meninggalkan gejala sisa baik perkembangan otak ataupun motorik.

Prof. Asrilaminullah, Sp.A(K), Klinik Kancil





Konsentrasi Belajar

Sebagai guru TK, saya sering menghadapi anak yang susah konsentrasi belajar. Bagaimanakah cara mengatasinya?

Atik Jl. Cibiu, Jakarta Timur


Jawaban :

Kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi berkembang seiring dengan bertambahnya usia anak. Pada anak usia TK (pra-sekolah), kemampuan mempertahankan konsentrasi masih sangat tergantung pada tingkat ketertarikan anak. Semakin tinggi rasa tertariknya, maka semakin lama dia akan berusaha untuk mempertahankan konsentrasi. Pada umumnya, anak usia TK (pra-sekolah) memiliki kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi selama 10 – 15 menit.
Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk melatih anak dalam mempertahankan konsentrasi adalah dengan membacakan buku cerita. Untuk anak usia TK, gunakan buku cerita bergambar. Dalam kegiatan ini, guru membacakan sebuah cerita sambil menunjukkan gambar-gambar di dalam buku. Kegiatan ini bertujuan untuk memancing rasa penasaran anak sehingga anak akan berusaha untuk mempertahankan atensinya. Kegiatan ini bisa dilakukan secara bertahap, dengan durasi waktu yang semakin diperpanjang setiap sesinya. Kegiatan yang menyenangkan ini sangat bermanfaat untuk melatih anak dalam meningkatkan rentang atensi dan mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan  konsentrasi. Selamat mencoba!.

Cindy Sutjiadi, Psi., Klinik Kancil





Terapi Rasional Emotif

Apakah terapi rasional emotif dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika untuk mengurangi kecemasan matematik? Jika bisa maka bagaima cara menggunakan terapi tersebut?

Tia Gegerkalong, Bandung


Jawaban :

Rasional Emotif Terapi (RET) memandang bahwa masalah yang dihadapi klien berasal dari ketidaklogisan dalam pola berpikirnya. RET bertujuan untuk menyadarkan klien atas pikirannya yang tidak logis. Dalam RET, klien dilatih untuk berpikir dan bertindak secara lebih rasional.
Fungsi berpikir (kognitif), merasa (emotif), dan tingkah laku (behavioristik) manusia berjalan bersama dan tidak bisa dipisahkan. Oleh sebab itu, bila salah satu dari ketiga fungsi tersebut mengalami gangguan, maka fungsi-fungsi yang lain juga akan ikut terganggu.
Pada dasarnya, terdapat tiga teknik dalam RET, yaitu:

  1. Teknik Kognitif: digunakan untuk mengubah cara berpikir klien, dilakukan dengan teknik pengajaran, teknik persuasif, teknik konfrontasi dan teknik pemberian tugas.
  2. Teknik Emotif : digunakan untuk mengubah emosi klien, dilakukan dengan teknik ‘sosiodrama’, teknik ‘self-modeling’ dan teknik ‘assertive training’.
  3. Teknik Behavioristik: digunakan untuk mengubah tingkah laku klien, dilakukan dengan teknik ‘reinforcement’ dan teknik ‘social modeling’.

RET membutuhkan kemampuan untuk berpikir abstrak sehingga teknik ini akan lebih efektif untuk diberikan bagi anak berusia di atas 7 tahun. Pada usia tersebut, kemampuan anak untuk berpikir secara abstrak sudah lebih berkembang.
Prinsip-prinsip RET cukup sesuai untuk diterapkan dalam usaha untuk mengurangi kecemasan anak ketika belajar matematika. Namun untuk penerapan terapinya, harus dilakukan oleh orang yang memiliki lisensi untuk memberikan terapi tersebut.

Cindy Sutjiadi, Psi.,Klinik Kancil





Bahasa Asing untuk Anak

Bagaimana mengajarkan bahasa asing pada anak umur 4-12 tahun tanpa membuat anak meresa terbebani ketika mempelajarinya?

Widarmanto Universitas Borobudur, Jakarta Timur


Jawaban :

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menanyakan minat anak. Apakah anak mempunyai keinginan untuk belajar bahasa asing. Bila anak belum berminat, namun orangtua merasa anak perlu untuk belajar bahasa asing, sebaiknya tumbuhkan minat anak terlebih dahulu. Memaksa anak untuk melakukan sesuatu yang belum diinginkannya, pasti akan membuatnya merasa terbebani.
Mengajarkan bahasa asing kepada anak bisa dilakukan secara formal maupun informal. Secara formal, anak bisa didaftarkan pada berbagai lembaga bahasa asing yang sekarang banyak membuka kelas khusus bagi anak-anak. Orangtua sebaiknya mengunjungi beberapa lembaga bahasa asing agar bisa membandingkan dan memilih yang paling sesuai bagi anak. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah:

  1. Materi pengajaran: apakah sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, apakah bentuk materi yang diberikan (buku, worksheet) cukup menarik bagi anak.
  2. Metode pengajaran: ceramah, permainan, interaktif.
  3. Tenaga pengajar: menggunakan tenaga pengajar lokal, asing atau keduanya.
  4. Jarak tempat les dengan rumah. Tempat les yang terlalu jauh hanya akan membuat anak lelah. Sebaiknya cari tempat les yang cukup dekat dengan rumah sehingga kegiatan tambahan ini tidak terlalu banyak menyita waktu anak dan membuatnya kelelahan.

Secara informal, proses belajar bisa dilakukan setiap saat. Pada dasarnya anak-anak senang belajar mengenai suatu hal baru. Namun cara belajar yang paling tepat untuk anak usia 4–12 tahun adalah dengan melakukannya secara langsung. Proses belajar ini juga akan semakin menyenangkan dan menarik bagi anak bila dilakukan dalam suasana bermain yang santai. Orangtua bisa mengajak anak membaca buku cerita berbahasa asing, menonton film berbahasa asing, bermain board games seperti monopoli dan scrabbles. Kegiatan-kegiatan tersebut selain menyenangkan, namun juga melatih anak untuk terbiasa mendengar berbagai kosa kata bahasa asing. Selamat mencoba!.

Cindy Sutjiadi, Psi., Klinik Kancil





Belum Bisa Baca

Anak saya laki-laki (5 tahun, 5 bulan), sekolah di TK B. Sampai saat ini dia belum bisa baca. Sepertinya dia tidak suka mengenal huruf, tetapi kalau berhitung dia masih mau belajar. Bagaimana memotivasi anak agar mau belajar mengenal huruf dan membaca? Sebagai informasi tambahan, anak saya termasuk anak yang motorik kasarnya lebih dominan daripada motorik halus.

Shinta Jatibening, Bekasi


Jawaban :

Biasanya anak akan siap untuk membaca di usia 5-6 tahun. Keterampilan membaca merupakan suatu proses yang harus dikuasai tiap tahapannya oleh anak. Mulai dari mengenal bentuk, mengenal huruf kecil, mengenal huruf besar, merangkaikan huruf menjadi kata, serta memahami maksud atau arti dari kata-kata yang dibaca. Karena merupakan suatu proses, maka pembelajarannya pun perlu dilakukan bertahap. Memang, setiap anak memiliki kecenderungan dan kecepatan masing-masing. Namun, sebagai orangtua kita harus terus berusaha melakukan kegiatan untuk mengenalkan dan melatih anak menguasai keterampilan tersebut.
Kegiatan yang dapat dilakukan orangtua tidak harus langsung berkaitan dengan proses belajar membaca, tetapi mulailah dengan mengenalkan kegiatan membaca pada anak. Aktivitas mendongeng sebelum tidur akan sangat membantu anak untuk menyukai kegiatan membaca. Membaca pun bisa dilakukan di mana saja. Dengan bantuan papan iklan di jalan yang berukuran besar dan berwarna menarik, sebagian anak dapat memperlancar keterampilannya dengan senang hati.

Alzena Masykouri, MPsi, Klinik Kancil





Pelajaran Matematika

Mengapa beberapa anak saya sulit sekali menguasai pelajaran matematika? Faktor-faktor apa sajakah yang sebenarnya mempengaruhi prestasi belajar matematika?

Dewi Jakarta Timur


Jawaban :

Anak-anak terkadang sulit membayangkan angka-angka yang menurut mereka tidak nyata. Hal ini umumnya karena mereka tidak dibiasakan untuk terlibat dengan kegiatan matematika dalam aktivitas sehari-harinya. Kesulitan biasanya terjadi pada soal cerita. Anak tidak dapat memahami logika berpikir dari soal, apakah bertambah, berkurang, atau berlipat-ganda (perkalian) atau dibagi (pembagian). Agar anak tidak sulit memahami persoalan matematis, latihlah dulu kemampuan logikanya. Baru kemampuan berhitungnya. Berhitung yang cepat dan tepat menuntut ketelitian dan keterampilan berpikir, bukan sekedar latihan terus-menerus (drilling). Yang paling penting adalah menggunakan operasi matematis dalam kegiatan sehari-hari.

Alzena Masykouri, MPsi, Klinik Kancil





Nasihat untuk 1 Hari

Belum lama ini anak saya laki-laki (4,5 tahun) membuat masalah di sekolahnya. Ia melukai kawannya hingga berdarah di bibir. Menurut pihak sekolah anak saya yang sedang bercanda dengan kawannya, akhirnya melukai teman lain yang sedang bercanda juga. Yang ingin saya tanyakan adakah cara penyampaian yang paling tepat menasihati anak seusia mereka? Karena selama ini nasehat saya hanya berlaku untuk 1 hari itu saja. Keesokannya ia pasti melakukan kesalahan lain, bahkan kesalahan yang sama. Sebagai tambahan anak saya tidak bisa diam bukan hanya di rumah dan di sekolah, tetapi juga di di tempat umum seperti di mal, dan sebagainya. Normalkah itu?

Lia Astrinani Jagakarsa, Jakarta Selatan


Jawaban :

Bila ingin menasehati, maka bisa diikuti dengan konsekuensi yang konsisten dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, sampaikan pada anak Anda bahwa bila dalam 3 hari anak Anda tidak melakukan kesalahan di sekolah yang menyakiti teman, Anda akan memberi hadiah kepadanya. Target waktunya bisa Anda tentukan, misalnya: tiap tiga hari dan kelipatannya. Cara ini dikenal dengan nama terapi behavioristik. Seorang psikolog akan bisa membantu Anda untuk merancang terapi yang tepat untuk anak Anda.
Anak seusia putra ibu memang sedang berada dalam tahapan pengembangan kemampuan motoriknya. Akibatnya banyak sekali gerakan dinamis yang ia hasilkan. Akan tetapi, bila Anda ingin mengetahui normal tidaknya, maka harus dilakukan pemeriksaan dan observasi yang mendetil. Saya sarankan Anda untuk menghubungi seorang psikolog untuk membantu Anda melakukan pemeriksaan yang akurat. Jangan ragu untuk menghubungi profesional untuk mendapatkan nasihat terpercaya. Salam!

Tia Rahmania, MPsi , Klinik Kancil





Brain Gym

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan brain gym dan pengaruh brain gym terhadap memori pada anak itu seperti apa?

Nia Bandung, Jawa Barat.


Jawaban :

Brain gym adalah suatu program berupa rangkaian gerakan fisik sederhana yang dapat dilakukan seseorang, tanpa batasan usia tertentu, untuk meningkatkan kemampuan belajar dengan menggunakan keseluruhan bagian otak. Senam otak ini diyakini merangsang seluruh bagian otak untuk bekerja secara terintegrasi sehingga tidak hanya bagian tertentu yang lebih aktif daripada bagian yang lain.
Pada dasarnya karena masing-masing otak memiliki tugasnya sendiri, maka kita cenderung hanya memanfaatkan otak pada bagian tertentu saja, sehingga hanya bagian tertentu saja yang bekerja keras. Makanya bisa kita temukan ada anak yang sudah mempelajari sesuatu tetapi tidak mampu menerangkan apa yang telah ia pelajari tersebut. Hal ini karena ia hanya mengaktifkan otak bagian belakangnya saja. Nah, brain gym ini mengajarkan orang untuk memanfaatkan kemampuan seluruh dimensi-dimensi otaknya yang tadinya terhambat untuk belajar. Tujuannya mengoptimalkan kemampuan belajar seseorang sehingga dapat mengatasi hambatan belajar (baik itu membaca, menulis, berhitung dan berfikir secara umum) dan memperbaiki perilaku serta prestasinya. 
Salah satu pengaruh brain gym terhadap kemampuan memori dilaporkan melalui publikasi internasional dari jurnal Brain Gym, 2001. Laporan itu menyebutkan bahwa di sebuah TK di Tomohon, Sulawesi Utara, anak-anak yang  melakukan brain gym selama 15 menit sebelum pelajaran dan di sela-sela waktu istirahat, telah berhasil meningkatkan konsentrasi dan partisipasi anak-anak serta membuat kelas menjadi lebih bergairah dan menyenangkan.

Tia Rahmania, MPsi , Klinik Kancil





Mengenalkan Angka dan Huruf

Saya seorang ibu dengan 2 anak perempuan (4 tahun dan 10 bulan). Anak saya yang pertama sudah masukkan ke playgroup sejak umur 2 tahun 3 bulan,  dengan tujuan agar dia bisa bersosialisasi dengan lingkungan di luar rumahnya. Hal ini saya lakukan, karena waktu itu, anak saya sama sekali tidak bisa pisah dengan saya. Bahkan bila saya ke kamar mandi pun dia ikut. Syukurlah setelah satu tahun dia sudah mulai beradaptasi dan senang pergi sekolah.
Menginjak tahun kedua di playgroup, saya mulai mencoba mengetes kemampuan akademisnya seperti mencoba bertanya tentang angka-angka atau alfabet. Ternyata, dia tidak bisa mengucapkan, kalau tidak dikasih tahu awalannya. Seperti angka satu harus dimulai angka ’sa...’ dia baru jawab ’...tu’. Berulang-ulang tetap saja begitu. Bahkan dia seperti tidak suka melihat angka. Menurut saya, si sulung tidak bisa menerima tekanan, konsentrasinya kurang, dan cepat sekali bilang capek kalau saya mulai bertanya tentang huruf, atau apa saja yang bisa membuat dia bosan. Tetapi kalau lagu di sinetron kok dia cepat sekali ya hapalnya? Bagaimanakah cara yang efektif untuk mengenalkan angka dan huruf padanya? Apakah daya konsentrasinya yang terbatas itu karena pengaruh alerginya? (Dia terkena alergi mulai umur 9 bulan, diare hebat hingga umur 11 bulan.

Ainun Fitria Azizah Surabaya, Jawa Timur


Jawaban :

Ibu Ainun di Surabaya, sebagai seorang ibu yang sangat memperhatikan anaknya, tentu ibu ingin mengetahui sejauh mana perkembangan belajar anak Ibu. Memang pada anak seusia si sulung, ada beberapa anak yang sudah mulai mengenal huruf dan angka. Namun Ibu tidak perlu terlalu cemas karena hal ini tidak mutlak sifatnya. Si sulung tampaknya mudah bosan ketika diajak belajar. Tapi Ibu dapat mengatasi hal ini dengan cara mengajaknya belajar sambil bermain, karena pada hakikatnya anak seusia si sulung sangat suka kegiatan bermain. Jika si sulung cepat menghapal lagu, Ibu dapat mencoba melagukan huruf-huruf atau angka-angka yang ingin diajarkan sehingga si sulung pun lebih mudah menghapalnya. Ibu juga dapat mencoba kegiatan bermain lain seperti permainan mencari huruf atau angka yang diletakkan di beberapa sudut ruangan. Selain itu, ibu pun dapat menggunakan media belajar yang menarik seperti menggunakan bentuk-bentuk huruf yang berwarna-warni dan disertai gambar sehingga si sulung akan lebih tertarik untuk mempelajarinya.

Adapun mengenai masalah alergi, temuan terakhir mengatakan bahwa ternyata alergi dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh termasuk fungsi otak sehingga dapat menimbulkan gangguan konsentrasi, emosi berlebihan, gangguan koordinasi, agresif, dan hiperaktif. Untuk mengetahui masalah ini lebih mendalam, ibu dapat berkonsultasi dengan dokter ahli alergi. Demikian jawaban saya Ibu Ainun, semoga si sulung kelak senang belajar dan berkembang dengan lebih optimal.

Mona Octaviany Siregar, MPsi, Klinik Kancil





Tubuh Mungil dan Suntik Hormon

Anak saya perempuan (4,5 tahun) tergolong kecil di lingkungannya (sekolah dan les balet). Tinggi 95 cm, berat 13 kg. Saya sudah ikutkan dia les berenang seminggu sekali, makan dan minum cukup bergizi, dan ia sangat gesit, sehat dan cerdas. Namun kekhawatiran itu masih ada. Salah satu dokter merekomendasikan agar anak saya diberi suntikan hormon untuk meningkatkan pertumbuhannya. Tapi saya masih takut untuk mengikuti rekomendasi tersebut, namun di sisi lain, saya tidak ingin terlambat menangani pertumbuhan anak. Sekedar informasi, saya juga bertubuh mungil (155cm), suami pun sedang (169cm). Apakah ada faktor keturunan? Apa yang harus saya lakukan?

Ani Virgim Lebak Bulus, Jakarta Selatan


Jawaban :

Anak ibu termasuk agak kurang tercukupi gizinya. Beratnya di bawah berat standar 100 %, tetapi sedikit di atas 90%. Anak dengan tinggi 95 cm, berat badan normal 14,3 kg (100%). Bila berat badan kurang 90% (12,8 kg) disebut gizi kurang, sedangkan bila berat badan kurang dari 80%  termasuk gizi buruk. Anak ibu yang beratnya 13 kg, masih masuk di atas 90% lebih sedikit, jadi gizinya agak kurang. Tetapi dengan bertambahnya umur akan terjadi percepatan pertumbuhan pada masa remaja (adolescurt growth spurt). Tumbuh kembang anak dapat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu keturunan (genetik) dan lingkungan ( bio psikososial). Tidak dianjurkan untuk pemberian hormon.

Dr. Zuraida, SpA(K), Klinik Kancil





Tidak Suka Sekolah Baru

Anakku sekolah di sekolah active learning yang cukup beken di Jakarta. Tetapi karena sesuatu hal, anakku kupindahkan ke sekolah lain. Kurang dari 1 tahun anakku selalu mengeluh tentang sekolahnya yang baru, dan dalam 1 tahun ini anakku naik berat badannya 20-an kilo. Sebagai single parent yang sibuk, apakah sebaiknya yang saya lakukan?

Indhira Shinta Dewi Duren Tiga, Jakarta Selatan


Jawaban :

Ibu sebaiknya memeriksakan anak ibu ke dokter anak, untuk  mengetahui kondisi tubuh anak ibu dan sebaiknya berkonsultasi secara pribadi ke psikolog anak atau psikolog sekolah (jika ada).
Sebelum melakukan pemeriksaan, orang tua dapat melakukan berbagai hal berikut :

  1. Dengan situasi yang nyaman, tanya anak mengapa/alasan ia tidak menyukai sekolah barunya. Buatlah daftar bersama anak tentang hal-hal yang tidak disukai anak dari sekolah barunya. Jangan menilai jawaban yang diberikan anak, apalagi membandingkan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang tadi sudah ditulis tanpa pindah sekolah. Bahas bersama dan hargai pendapat anak.
  2. Bahas dengan guru mengenai kesulitan yang dihadapi anak dan cari jalan keluar bersama.

Jika masalah terus berlanjut, segera konsultasikan kondisi anak dengan psikolog dan dokter.

Edward Andriyanto M.Psi, Klinik Kancil





Masih Ngedot

Anak saya umur 4 tahun 11 bulan, masih ngedot dan minum susu untuk anak umur 1 tahun ke atas. Bagaimana mengatasinya?

Neni Kalinegoro, Malang


Jawaban :

Apakah yang menyebabkan anak ibu masih minum susu untuk anak berusia 1 tahun? Apakah yang menyebabkan anak ibu masih menggunakan botol dengan dot? Jika tidak ada alasan khusus selain kebiasaan atau anak tidak mau ganti susu, orang tua dapat melakukan intervensi terhadap hal ini :

  1. Susu

    Orangtua dapat memberi variasi susu pada anak yang sesuai dengan usianya, dan mengurangi jumlah susu untuk anak usia 1 tahun. Perlahan, tingkatkan jumlah susu yang sesuai dengan usia dan kurangi susu yang tidak sesuai. Jangan secara drastis menurukan jumlah susu yang disukainya, atau meningkatkan susu yang sesuai usianya.

  2. Botol dengan Dot

    Orangtua dapat mulai memperkenalkan sedotan dengan mulai mengajak anak menggunakan sedotan. Katakan, “Anak mama sudah mulai besar, anak besar minum pakai sedotan.” Penggunaan sedotan dapat dimulai perlahan. Misalnya hanya pada siang hari, jumlah penggunaan sedotan ditingkatkan secara perlahan dan penggunaan botol diturunkan.

Edward Andriyanto M.Psi, Klinik Kancil





Perawatan Gigi Penderita Leukimia

Bagaimana perawatan gigi pada anak penderita leukemia?

Wiwied Pontianak, Kalimantan Barat


Jawaban :

Anak penderita leukimia yang sudah mendapat pengobatan dengan Sitostatika, dan sudah dalam jadwal pengobatan pemeliharaan, atau dalam keadaan remisi baru bisa dilakukan perawatan gigi. Bila perawatan gigi dilakukan sebelumnya, ditakutkan terjadi infeksi atau pendarahan.

Dr. Zuraida , Sp.A (K), Klinik Kancil





Disiplin dengan Hukuman

Bagaimana cara meningkatkan disiplin anak usia sekolah dengan hukuman secara tepat?

Nurpiani Surakarta, Jawa Barat


Jawaban :

Salam, Ibu Nurpiani
Wah, disiplin tidak sama dengan hukuman lho, Bu. Disiplin adalah kombinasi dari instruksi orangtua dan koreksi dari orangtua yang mengajarkan/mendidik anak untuk bertingkahlaku sesuai dengan nilai-nilai keluarga dan aturan dari keluarga. Jadi, jangan harap anak akan disiplin dengan hukuman bila ternyata aturan-aturan di keluarga tidak jelas. Bagaimana anak tahu perilaku apa yang diharapkan dari mereka bila tidak ada aturannya, bukan? Konsekuensi tentu harus ada bila terjadi pelanggaran kesepakatan, tetapi tidak sama dengan hukuman. Yang paling baik adalah ketika anak memahami aturan dan mampu melaksanakan dengan suasana yang nyaman. Kebutuhan untuk teratur atau disiplin sebenarnya ada pada setiap individu. Tergantung keluarga, apakah akan menggunakannya sebagai bagian dari kehidupan, atau hanya menggunakannya ketika perlu tanpa pembiasaan. Jadi kuncinya, bila ingin disiplin, lakukan aturan-aturan seperti ritual yang menyenangkan, tanpa paksaan. Misalnya, ingin anak teratur bangun pagi, ya beri pemahaman pentingnya bangun pagi, keuntungan bangun pagi, dan lakukan tanpa alasan, hari libur sekalipun tetap bangun pagi. Tidak perlu pakai hukuman atau marah-marah. Kalau terbiasa dan senang, semua jadi bahagia. Semoga berhasil.

Alzena Masykouri, Msi, Klinik Kancil





Mudah Menyerah

Saya punya seorang anak perempuan umur 6 tahun (kelas 1 SD). Yang mau saya tanyakan, bagaimana caranya memotivasi anak agar tidak mudah menyerah atau putus asa. Anak saya mudah sekali menyerah/putus asa apabila menemukan kesulitan dalam kegiatan keseharian?

Retno Widyaningrum Bintaro, Tangerang


Jawaban :

Salam, Ibu Retno.
Untuk anak usia sekolah, cara belajar yang efektif adalah melalui contoh. Jika anak melihat contoh bahwa manusia itu memang harus berusaha mengatasi kesulitan atau tantangan, biasanya mereka akan memahami bahwa tantangan ada untuk diatasi, bukan ditinggalkan. Selain itu, mungkin bisa diperhatikan apakah kesulitan/tantangan yang dihadapi seharusnya sudah dapat diatasi atau belum karena belum dikuasainya suatu keterampilan. Misalnya, seorang anak pasti merasa putus asa bila ia harus menalikan tali sepatunya sementara ia belum terampil dalam tali-temali ini. Cara yang paling efektif adalah dengan dikuasainya keterampilan yang mendukung terlebih dahulu. Dan, jangan lupa lakukan dalam suasana yang menyenangkan ya, Bu. Salam untuk ananda.

Alzena Masykouri, Msi, Klinik Kancil





Batuk Berdahak

Hai dok, saya ibu dari anak perempuan berusia 7 tahun. Sejak bayi, anak saya sangat rentan terkena batuk berdahak. Hingga saat ini, dia tak bisa minum es, makan coklat atau makanan lain yang merangsang batuk. Saya sudah beberapa kali membawanya ke dokter dan diberi obat, namun kondisinya sama saja. Sewaktu bayi, dia memang tidak mendapat ASI. Apakah ini ada hubungannya dengan sistem imun dalam tubuhnya? Mengapa anak saya rentan sekali terkena batuk? Apa yang harus saya lakukan? 

Sundari Depok, Jawa Barat


Jawaban :

Ibu, kasus seperti ini banyak dialami anak-anak. Tampaknya kerentanannya terhadap batuk merupakan bagian dari proses alergi. Ibu sudah pada arah yang tepat, yaitu mengidentifikasi pemicunya dan menghindarinya. Sebagian besar reaksi alergi akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia anak. Tetap berikan pengertian untuk berpantang makanan kesukaannya yang dapat memicu batuk. Sepanjang reaksi alergi yang ditimbulkan tidak mengancam nyawa, seperti sesak nafas, penurunan tekanan darah hingga pingsan, ataupun biduran seluruh badan, ibu dapat mencoba memberikannya setiap beberapa bulan sekali. Berikan dalam jumlah yang relatif sedikit untuk melihat toleransinya.

Selama anak masih sangat kerap menunjukkan gejala alergi, sebaiknya berikan obat-obatan yang dapat mengontrol agar gejalanya tidak muncul. Pilih obat yang dapat digunakan jangka panjang, dengan efek samping yang sangat minimal (controller). Bila muncul gejala, berikan obat-obatan pelega (reliever). Pemberian ASI memang mengurangi kejadian alergi terutama yang berhubungan dengan eksim, khususnya pada bayi yang masih disapih. Mengingat usia anak ibu saat ini, faktor bawaan dalam dirinyalah yang lebih banyak berperan.

Dr. Lineus Hewis Sp.A, The Jakarta Women and Children Clinic





Masuk SD Terlalu Dini

Putri kami 5 tahun 7 bulan, semestinya dia masuk TK-B, namun karena saat-saat terakhir duduk di TK-A dia malas ke sekolah,akhirnya saya memutuskan memasukan dia ke SD. Setelah mengikuti Psikotest & wawancara dia diterima di salah satu SD unggulan.  Yang membuat saya sedih, setelah 2 minggu di sekolah baru, Reihan banyak sekali mempunyai  alasan untuk tidak masuk sekolah, misalnya :  Mama, aku ngga mau sekolah disana, temennya jahat jahat. Mama, aku capek. Mama, kalau pakai baju ini aku ngga cantik. Mama aku mau ke TK B dulu, Mama hari ini aku mau melukis buat mama.. dsb. Terhitung sampai sekarang, sehari dia masuk sehari tidak. Kalau pun masuk itu pun setelah saya bujuk-bujuk. Kalau saya tidak tega akhirnya saya biarkan dia main dirumah. Jangan-jangan keputusan kami memasukan anak terlalu dini ke SD justru akan ’membunuh’ karakternya. Haruskah saya kembalikan Reihan ke TK-B, haruskah saya memindahkan sekolahnya ke sekolah umum, atau tetap menyekolahkan dia disana? Sampai berapa lama saya harus memberikan toleransi untuk masa penyesuaiannya?

Enggar Wahyuningsih Lippo Cikarang, Bekasi


Jawaban :

Ibu Enggar yang saya hormati, saya melihat bahwa keputusan ibu untuk memasukkan putri ibu ke SD dengan alasan bahwa pada saat-saat terakhir di TK-A dia malas ke sekolah, belum tepat. Justru yang perlu ibu cari tahu segera adalah apa yang ada dibalik semua sikap, ucapan yang membuat putri ibu malas sekolah semenjak di TK A.

Perlu ibu ketahui, bahwa ada beberapa faktor yang membuat seorang mengalami masalah di sekolah. Pertama, berkaitan dengan kematangannya, baik kematangan akademis, emosi maupun sosial. Kematangan akademis dapat dilihat dari kemampuannya untuk menghadapi dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah, seperti membaca, menulis, berhitung, dsb. Kematangan emosi, berkaitan dengan pengelolaan emosi dan ego diri, sehingga anak memiliki kemampuan yang dapat dengan tepat mengekspresikan emosinya pada beragam situasi yang dihadapinya. Kematangan sosial, berkaitan dengan keterampilannya dalam berinteraksi sosial dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua serta beradaptasi pada situasi baru. Ketika seorang anak mengalami ketidakmatangan pada aspek-aspek tadi maka ia akan mengalami kesulitan, sehingga mempengaruhi motivasinya untuk ke sekolah.

Selain itu, waspadai kecenderungan anak kita menjadi korban ”Bullying” dari teman-temannya.  Termasuk tindakan Bullying adalah cemoohan secara verbal, ejekan atau bahkan diisolasi secara sosial (tidak diajak bermain dengan berbagai alasan, contohnya, tidak memiliki barang yang sama, tidak mengikuti tren rambut, atau pakaian, bahkan dinilai tidak cantik, dsb ).

Ibu perlu mencari tahu permasalahan utama yang dihadapi Reihan.Untuk mencari tahu ibu dapat melakukan beberapa hal dibawah ini:

  1. Langsung menanyakan kepada Reihan apakah ia mengalami kesulitan untuk menghadapi tuntutan di sekolah (misal, kesulitan menulis, berhitung atau membaca). Tanyakan juga alasan ia mengatakan bahwa ”temannya jahat-jahat”, atau kenapa ingin ke TK B, dsb
  2. Ada baiknya ibu luangkan waktu untuk melihat pola interaksi, komunikasi, serta perilaku yang Reihan perlihatkan selama di sekolah, baik itu, dengan teman-temannya maupun dengan guru-gurunya.  
  3. Bertanya langsung pada guru tentang aktivitas dan interaksi Reihan selama di sekolah, termasuk karakter apa yang biasa muncul selama di sekolah.
  4. Bertanya kepada teman-teman Reihan, apa pandangan mereka terhadap Reihan.

Jika permasalahannya adalah ketidakmatangan, maka Reihan sebetulnya belum siap masuk sekolah, masih ingin lebih banyak waktunya, melakukan aktivitas sesuai dengan keinginannya, sehingga orangtua dapat memberikannya kesempatan untuk melakukan aktivitas apa yang ia nikmati sebagai ladang pembelajarannya.

Namun jika permasalahannya adalah menjadi korban ”Bullying” maka perlu dibicarakan secara serius kepada pihak sekolah dan guru untuk mengantisipasinya, selain itu, menguatkan Reihan untuk lebih berani menghadapi perlakukan temannya dengan sikap mantap menolak dengan tegas atau menyatakan ketidaksukaan dengan perilaku yang dilakukan oleh temannya, sehingga terbangun keberanian, kemandirian, dan sikap tahan banting. 

Waktu toleransi, sebenarnya tergantung pada berapa waktu yang ibu perlukan untuk mencari penyebab utama dari permasalahan yang dihadapi Reihan. Semakin cepat ibu menemukan penyebab masalah yang utama, semakin cepat pula dapat dicari solusinya.  Memindahkan ke sekolah umum pun bisa menjadi pilihan yang tidak tepat jika, permasalahan utamanya belum dapat diselesaikan dengan baik.

Pada usia saat ini, putri ibu sedang membangun karakter yang dimilikinya. Dukungan orangtua sangat berpengaruh pada pembangunan karakter ini. Lebih banyak mengajaknya berdiskusi sekaligus menanamkan nilai baik dan buruk serta menumbuhkan rasa percaya akan kemampuan diri bahwa segala sesuatu dapat dihadapi dan diselesaikan dengan baik merupakan bagian dari pembangunan karakter tadi. Selain itu, lebih sering melibatkannya untuk membuat pilihan bagi dirinya serta membiasakannya untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dipilihnya akan membantunya membangun karakter yang positif.

Ani Khairani, M.Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia





Lebih Galak Adik

Saya ibu dari dua anak laki-laki usia 6 tahun dan 4,5 tahun. Secara fisik adiknya lebih besar dibandingkan kakaknya. Dalam keseharian, si adik lebih galak dan agresif dibanding kakaknya. Misalnya jika tidak dipinjami mainan, si adik bisa langsung memukul kakaknya. Sementara si kakak hanya bisa mengadu. Untuk hal lain pun, si adik ingin didahulukan, atau dia akan marah. Apakah hal ini wajar untuk anak?

Nisrina Rafila Kebon Jeruk, Jakarta Barat


Jawaban :

Ibu, saya dapat memahami kebingungan ibu dalam menempatkan diri dengan pola perilaku yang khas dari masing-masing anak. Si kakak cenderung perasa dan berhati-hati dalam bertindak, sementara si adik lebih ekspresif dan cenderung berani dalam bertindak. Pertama-tama, ibu perlu lebih memperhatikan sikap ibu untuk tidak ”berat sebelah” dalam memutuskan, misalnya lebih sering meminta kakak untuk mengalah ataupun lebih sering meminta adik untuk tidak mengganggu kakak.

Kedua, ibu perlu mengajarkan kedua anak untuk bersikap lebih asertif. Saat ibu melihat adik merebut mainan kakak, ibu dapat mengatakan ”Adik, kakak sedang memakai mainan itu, kamu tunggu dulu.” Jika adik terus memaksa, ibu dapat mengatakan ”coba kamu cari mainan lain yang dapat ditukar dengan kakak.”  Sementara ibu juga katakan pada kakak ”Kakak, kalau masih mau bermain bilang sama adik, ”de’, tunggu sebentar ya, adik main yang lain dulu”. Jika kakak, tampak tidak senang, tetapi diam saja, katakan ”Kalau kamu tidak suka bilang sama adik, ”de’ aku sedih kamu merebut mainan, lain kali bilang  yang baik ya.”  Diperlukan keteguhan hati untuk memfasilitasi kebutuhan kedua anak ibu, tapi saya yakin lambat laun ibu pasti bisa!

Yulistia, M.Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia





Darimana Datangnya Adik?

Anak perempuan saya 8 tahun, baru-baru ini mengajukan pertanyaan yang membingungkan saya. Dia bertanya, ”Ma, adik itu datangnya dari mana ya? Kok bisa ada di perut mama?” Waduh, saya tentu saja bingung. Saya tahu, kesempatan ini bisa dijadikan momen untuk memberikan edukasi seks kepadanya. Bagaimana cara menjawab pertanyaan seperti itu dengan baik, benar dan bijaksana?

Ermi S Pasar Minggu, Jakarta Selatan


Jawaban :

Memang tidak mudah menjelaskan pendidikan seksualitas secara baik, benar dan bijaksana. Membutuhkan seni tersendiri. Sebenarnya tidak ada jawaban yang baku atau standar. Dari sudut pandang perkembangan seksualitas dan perkembangan kognitifnya, penjelasan untuk anak usia 8 tahun harus konkret dan mudah dimengerti. Akan lebih baik jika penjelasan dibungkus dengan nilai-nilai agama sehingga dapat menghantarkan anak untuk dapat mengenal kebesaran Tuhan.

”Ma, adik itu datangnya dari mana ya?
“adik datangnya (keluarnya) dari perut mama setelah ada dalam perut mama selama 9 bulan. Tuhan mengeluarkan adik dari dalam perut, dibantu oleh dokter. Sehingga adik bisa lahir dengan selamat. Karena itu, kita harus bersyukur pada Tuhan.

Jika ia bertanya lebih lanjut, jadi adik datangnya darimana ma?

“Adik keluar dari lubang kemaluan mama sayang, letaknya di antara paha mama. Kakak juga punya kan, sama dengan mama. Tapi papa tidak punya. Makanya, yang bisa melahirkan hanya perempuan, laki-laki tidak bisa.

Kok bisa ada di perut mama?”

Iya begitulah Tuhan mengatur penciptaan manusia dengan kekuasaanNya. Tuhan Maha Kuasa dalam segala hal dan tidak ada yang sulit bagi Tuhan (apabila Tuhan berkehendak, cukup mengatakan “Jadilah, maka akan terjadilah” sesuatu yang diinginkannya).

Ulfa Mahmudah, M.Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia





Sering Buang Air Kecil

Putra saya berumur 4 tahun. Dia sering sekali buang air kecil, sekitar 30 hingga 60 menit sekali, tapi tidak setiap hari. Apakah anak saya baik-baik saja? Karena saya pernah mendengar istilah infeksi bakteri yang terdapat pada kantung kemih. Terimakasih.

Rosdiana Tangerang


Jawaban :

Pada usia tersebut memang tidak lazim anak buang air kecil sesering itu. Anak yang cemas atau menginginkan perhatian lebih, atau anak yang minum relatif  banyak dalam waktu yang singkat, dapat memberikan gejala yang sama. Bila hal ini berlangsung makin hari makin sering, apalagi disertai mengompol, maka harus dicari penyebabnya dengan lebih seksama.Seringnya buang air kecil bisa merupakan salah satu gejala infeksi saluran kemih (ISK). Namun biasanya disertai demam, mual atau muntah, dan mencret serta gangguan pertumbuhan.

Hal lain yang patut diwaspadai adalah diabetes, baik melitus (DM) dan insipidus (DI). Keduanya bermanifestasi hampir sama yaitu pembentukan urine yang relatif banyak sehingga terjadi kencing yang sering dan banyak sepanjang hari, disertai rasa haus  yang berlebihan. DM terjadi akibat kadar gula yang tinggi, sedangkan DI terjadi akibat kekurangan hormon anti-kencing (anti-diuretic hormone). Pemeriksaan volume urin/24 jam dan berat jenisnya, serta gula dan keton di urin akan membantu menyingkirkan DM dan DI.

Dr. Lineus Hewis, SpA, The Jakarta Women and Children Clinic





Sulit Diatur

Putra saya 7 tahun, sulit sekali diatur. Dia seringkali menjawab tidak mau atau ”entar” untuk setiap perintah yang ditujukan padanya. Dia baru melakukan hal-hal tersebut, kalau memang dia menginginkannya. Tidak bisa dipaksa. Bagaimana cara untuk mengajaknya berkompromi? Mohon sarannya. Yuni G, Cipayung, Jakarta Timur

Yuni G Cipayung, Jakarta Timur


Jawaban :

Ibu Yuni, terkadang orangtua terpaku pada pikiran dan keinginannya sendiri, bahkan dengan  alasan pembetulan yaitu ”untuk kebaikannya” dan terlupa pada ’dunia lain’, yaitu dunia anak. Untuk memahami anak ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

  1. Pahami jalan pikiran dan perasaan anak, sebelum ingin anak memahami ibu.
  2. Cobalah untuk berempati, dengan berusaha menempatkan diri pada posisi anak. Misalnya menyuruh mandi pada saat anak sedang menikmati komik barunya. Cobalah dengan mengatakan ”Setelah kamu menyelesaikan komik itu, segera mandi ya!”
  3. Cobalah untuk membiasakan pola komunikasi yang lebih banyak menggali apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya karena anak usia tersebut sudah mulai matang dalam kognitif. Tanyakan cara apa yang dia sukai untuk mengingatkannya tentang kewajibannya, cara menegur dan meminta tolong. Dan ibu menyampaikan apa yang diharapkan dari anak, tentang perilaku, kebiasaan, dll. 
  4. Ubahlah pola komunikasi 1 arah, terutama bentuk perintah atau melarang, apalagi memaksa tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu dengan anak.
  5. Mulailah untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab anak. Ajak anak berdiskusi dan membuat kesepakatan yang menyangkut kewajiban anak dan kewajiban ibu. Misalnya, tentang jadwal belajar, tanggung jawab memelihara barang sendiri, acara televisi yang boleh ditonton. Kesepakatan ini termasuk menentukan sanksi atas pelanggaran kesepakatan dan penghargaan (baik berbentuk pujian, hadiah barang atau aktivitas) jika anak mencapai perilaku yang diharapkan, seperti: sebulan berturut-turut anak mandi sesuai jadwal, hadiah atau penghargaan apa yang ia dapatkan.  
  6. Kesepakatan yang dibuat adalah kesepakatan antara orangtua dan anak. Orangtua harus konsisten melaksanakan kesepakatan termasuk konsisten memberikan konsekuensi baik sanksi maupun penghargaan. Hal ini akan membangun dan memelihara respek (rasa hormat) anak terhadap orangtua. Jika sekali mengecewakan, bisa jadi anak tidak respek lagi, sehingga kredibilitas dan integritas orangtua menurun atau bahkan hilang dimata anak. 
  7. Yang perlu diperhatikan, jika anak sudah mencapai kematangan emosional, ketika mulai beranjak remaja, konsekuensi harus dihilangkan, karena kesadaran akan tanggung jawabnya harus sudah muncul dari dalam dirinya.   

Ani Khairani, M.Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia





Malas belajar, Padahal Berprestasi

Saya Ibu dari seorang Putra yang kini duduk dibangku sekolah dasar, tepatnya kelas tiga. Sebenarnya anak saya adalah anak yang cerdas, prestasi di sekolahnya pun lumayan, namun ia malas belajar, tidak pernah saya lihat ia duduk di depan meja belajarnya untuk mengulang pelajaran. Kegemarannya adalah bermain PS berjam-jam. Pernah anak, saya tegur. Tapi ia tidak menunjukan perubahan sikap yang berarti. Saya kuatir masalah ini berlanjut, bagaimana cara agar ia mau peduli untuk lebih banyak membaca daripada sekadar bermain di depan PS.

Enny Irawati Prayogo Jakarta Barat


Jawaban :

Senang ya Bu, memiliki anak yang cerdas dan berprestasi di sekolah. Hanya saja masih ada persepsi mengenai belajar yang perlu diluruskan. Bahwa belajar dalam konteks pendidikan adalah mengantarkan anak untuk mencapai secara penuh potensi dirinya. Jika potensi anak berada dalam satu kotak tertutup, untuk membuka kotak tersebut dibutuhkan kunci yang tepat. Dalam hal ini, kunci yang dimaksud adalah bagaimana orang tua memahami gaya belajar anak, sehingga orang tua tidak terlalu “cemas” jika melihat anak tampak santai di rumah karena tidak belajar. Di bawah ini kami jelaskan ciri-ciri dan saran yang dapat dilakukan untuk masing-masing gaya belajar.

Gaya belajar visual
Ciri-ciri :

  • Belajar melalui pengamatan atau demonstrasi
  • Pengamat yang baik
  • Tidak banyak bicara, lebih banyak diam dan memikirkan segala sesuatu dan suka membuat perencanaan jauh ke depan
  • Tulisannya bagus dan penampilannya rapi
  • Selalu menulis apa yang ia lihat
  • Lebih mudah mengingat wajah orang daripada namanya
  • Mudah terganggu oleh gambar dan gerakan
  • Belajar optimal dengan melihat contoh sesuatu, fokus pada detail dan komponen
  • Pemecahan masalah melalui menulis masalah, misalnya dalam diary book
  • Merencanakan aktivitas jauh-jauh hari
  • Jika ada waktu luang, digunakan untuk jalan-jalan ke galeri, mal atau tempat-tempat yang bisa dilihat
  • Kurang spontan dalam menghadapi situasi baru

Saran :

  • Berikan kesempatan pada anak untuk mencurahkan pikiran dan perasaannya melalui gambar atau tulisan
  • Berbagai perlengkapan seperti papan tulis, crayon, cat air, spidol, gunting dan lem disiapkan untuk anak.
  • Ajaklah anak jalan-jalan ke museum, kebun binatang, toko, dan tempat lain yang bisa ia lihat dan nikmati.
  • Tegakkan disiplin pada anak dengan memberi contoh. Anak tidak membutuhkan perkataan panjang lebih, tetapi cukup dengan mencontoh perbuatan orang tuanya.
  • Hadiah berupa senyum sangat berarti bagi anak.

Gaya belajar auditori
Ciri-ciri :

  • Belajar melalui instruksi verbal
  • Gemar berbicara
  • Menyukai berbagai jenis musik
  • Mengeja atau membaca dengan pendekatan suara (membaca dengan keras)
  • Tulisannya kurang bagus
  • Lebih mudah mengingat nama daripada wajah orang
  • Mudah terganggu oleh suara
  • Pemecahan masalah melalui cerita atau curhat
  • Jika ada waktu luang, suka berbicara sendiri atau menyanyi
  • Spontan dalam menghadapi situasi baru

Saran :

  • Sediakan berbagai macam CD dan alat musik mainan
  • Berikan kesempatan pada anak untuk berbicara, bernyanyi, mendengarkan dan berteriak.
  • Gunakan kata-kata untuk menegakkan disiplin
  • Bertatap muka untuk menjelaskan permasalahan yang perlu menjadi perhatiannya
  • Diskusikan berbagai topik pembicaraan dan masalah

Gaya belajar kinestetik
Ciri-ciri :

  • Belajar langsung melalui keterlibatan diri (langsung mempraktekkan)
  • Dalam membaca, lebih suka banyak bergerak, tidak serius
  • Mengeja sekenanya
  • Jika menulis, terdapat tekanan keras di belakang kertas
  • Ingatan terbaik terdapat pada apa yang telah dilakukan, bukan apa yang dilihat atau yang sudah dibicarakan
  • Pemecahan masalah melalui fisik, impulsif (menendang, melempar, meninju)
  • Tampak energik dan penuh aktivitas (suka melompat, berlari, merangkul dan mencium jika merasa bahagia)
  • Sulit mendengar dengan baik dan mudah kehilangan minat dalam detail
  • Jika mendengarkan musik, akan bergoyang sesuai irama yang didengarnya
  • Menghabiskan waktu luang dengan gerakan-gerakan
  • Merespon situasi baru dengan mencoba, meraba, merasakan, dan memanipulasi sesuatu.

Saran :

  • Perlu disediakan berbagai kesempatan untuk pengembangan diri seperti memanjat dan berlari-lari
  • Belikan mainan roda dua, tali untuk melompat, bola dan juga mainan seperti cat air dan dough
  • Arahkan anak untuk bermain drama dengan peran yang berganti-ganti
  • Penegakkan disiplin tidak cukup dengan verbal karena tidak berpengaruh. Perlud digunakan cara time out atau langsung memegang tangannya secara fisik, daripada berteriak-teriak.
  • Cara yang tepat untuk memberikan hadiah adalah dengan pelukan, tepukan atau aktivitas fisik.
  • Beri kesempatan untuk membantu pekerjaan orang tua di rumah, seperti menyapu, mencuci, menyedot debu, dan membersihkan jendela. Jangan harapkan pekerjaannya akan rapi dan bersih, hal ini sekedar memfasilitasi agar energi yang dimilikinya mengalir dan keluar.

Selain tiga gaya belajar di atas, terdapat juga gaya belajar campuran. Biasanya setiap orang memiliki dua gaya belajar yang bercampur. Lazimnya visual-auditori, namun tidak jarang visual-kinestetik atau auditori-kinestetik. Mereka yang visual-auditori lebih cerewet daripada mereka yang asli visual, namun lebih memiliki respon visual yang lebih baik daripada yang auditori. Waktu luangnya diisi dengan menulis, menggambar, dan nonton TV dan bisa jadi sekaligus dengan memutar kaset atau radio. Mereka yang auditori-kinestetik memiliki kombinasi yang lebih banyak memiliki masalah dibandingkan yang visual-kinestetik. Kombinasi modalitas visual-kinestetik-auditori membuat anak lebih mudah dalam belajar. Mereka cenderung untuk mendengarkan, melihat, dan menerima serta mampu berbicara dengan mudah.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa anak memiliki keunikan untuk belajar. Sehingga anak anak belajar sesuai dengan kecenderungan yang dimilikinya. Hal terpenting bagi orang tua adalah menyadari bagaimana belajar terbaik bagi anak – tergolong visual, auditori, kinestetik atau campuran - agar anak mampu mengoptimalkan prestasi belajarnya di sekolah. Untuk kondisi anak Ibu dapat dicocokkan dengan gambaran di atas, karena kami belum mendapatkan informasi yang lebih detail. Salam.

Ulfa Mahmudah, M.Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia