Mendampingi anak dalam perjalanan masa tumbuh kembangnya untuk menjadi generasi yang unggul secara fisik dan mental adalah aktivitas yang sangat menantang. Perasaan senang, bahagia, tegang, cemas, dan berbagai peprsaaan lain berkecamuk, datang silih berganti. Tak jarang muncul masalah dan pertanyaan yang membingungkan, namun menantang untuk segera dicari jawabannya. Melalui Inspired Kids, para pakar yang budiman akan membantu orangtua untuk mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan seputar pengasuhan dan pendidikan anak, sejak janin hingga masuk usia remaja.
Mengapa anak perempuanku (13 bulan) kalau sedang marah atau menangis suka memukul kepala atau dirinya sendiri? Bagaimana cara menghentikan kebiasaan itu?
Reinha Diaz Cilandak Timur, Jakarta Selatan
Jawaban :
Anak usia di bawah 24 bulan memang masih sulit untuk dapat mengekspresikan emosinya dengan perilaku yang tepat. Oleh karena itu, inilah saat yang tepat untuk mengajarkan dan melatih anak agar dapat mengenali emosi (identified feelings). Mulailah dengan perasaan ´gembira´ atau ´senang´. Katakan, "Wah, kamu sedang senang ya, karena tertawa terus..." demikian juga dengan perasaan ´sedih´ dan ´marah´. Kemudian, latih anak untuk dapat menunjukkan perilaku yang tepat. Misalnya, jika sedih maka akan menangis, jika marah, tidak perlu pukul-pukul diri, cukup mengatakan ´aku marah, karena ..... (jelaskan)´. Sementara itu, alihkan perhatian anak bila ia sedang marah dan menyakiti dirinya sendiri. Katakan, “Kakak marah ya, karena tidak boleh ..... (jelaskan),” sambil menahan agar ia tidak menyakiti dirinya sendiri.
Alzena Masykouri, MPsi, Klinik Kancil
Apakah Anak Saya Menjurus ADHD?
Saya ibu dari seorang putra (30 bulan). Dia tergolong sangat aktif. Hampir semua aktivitas sehari-hari dia lakukan sambil berlari-lari. Dia selalu ingin tahu banyak hal. Apapun yang menurutnya aneh akan dia tanyakan pada siapapun meskipun pada orang yang tidak dia kenal. Dia juga kreatif terutama dalam berbicara dan bernyanyi. Dia sering mengganti ganti lirik lagu yang dia nyanyikan. Apakah anak saya tergolong hiperaktif dan menjurus ke gejala ADHD / autisme, karena ada yang bilang kalau anak tidak bisa diam itu tergolong autis ? Anak saya juga memiliki siklus tidur yang buruk. Malam dia tidur sangat larut bahkan pernah sampai jam 12 malam, bangun pagi jam 10 pagi, lalu sore jam 3 dia tidur lagi sampai hampir maghrib. Bagaimana menyiasati supaya pola tidurnya normal seperti anak-anak lain, mengingat saya dan ayahnya sama-sama bekerja di pagi hari. Kadang kami kelelahan menunggui dia di malam hari dan membiarkan dia bermain sendiri sampai tidur sendiri? Terima kasih.
Rizki Budi Prastiwi Jl. Pahlawan III/96 Probolinggo-Jawa Timur
Jawaban :
Ibu Rizky, pada usia 30 bulan berbagai kemampuan anak semakin berkembang. Dari kemampuan kognitif, motorik, maupun sosial, yang membuatnya aktif bergerak dan memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai hal di sekitarnya. Hal ini mendorongnya untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya. Adanya kesempatan untuk bereksplorasi dapat memperkaya pengalaman anak dan menunjang perkembangan berbagai kemampuan selanjutnya. Sedangkan adanya batasan-batasan yang ketat dalam berekplorasi, misalnya selalu melarang anak, akan mengurangi inisiatif anak untuk bertindak dan membuatnya menjadi kurang percaya diri dan pasif dalam lingkungan sosial. Jadi biarkan si kecil bereksplorasi selama ibu mengatur lingkungan agar aman baginya serta menentukan batasan yang logis, seperti tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain. Mengenai gejala autism, ada tiga gejala yang perlu dicermati, yaitu: gangguan dalam kemampuan bicara, misalnya keterlambatan bicara ataupun bicara dalam bahasa yang tidak dapat dipahami (bahasa ‘planet’); gangguan dalam kemampuan sosial, yaitu tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain (asyik dengan dunianya sendiri), atau dapat berinteraksi namun dengan cara yang tidak umum; serta munculnya tingkah laku yang bersifat repetitif, misalnya seringkali berputar-putar atau mengepak-ngepakkan tangan (flapping). Sedangkan ADHD merupakan gangguan pemusatan perhatian, dengan gejala antara lain sulit memusatkan perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan termasuk dalam bermain, serta hiperaktif dan impulsif, atau menampilkan tindakan yang tidak terarah dan tidak terkontrol. Ada baiknya Ibu berkonsultasi dengan psikolog terdekat untuk memastikan ada atau tidaknya gangguan perkembangan pada putra Ibu. Mengenai pola tidur, tiap anak memiliki ritme tersendiri. Namun ibu dapat mengatur waktunya, misalnya membiasakannya tidur pada jam 8 malam dengan mengajaknya ke kamar, mematikan lampu, dan menghentikan berbagai aktivitas di rumah yang dapat menarik minatnya untuk bermain. Jika ia belum mau tidur, lakukan aktivitas yang bersifat tenang di kamar seperti membaca buku. Hindari bermain yang bersifat aktif menjelang tidurnya. Minum susu menjelang tidur juga dapat membuatnya lebih mudah terlelap. Waktu tidur siang juga perlu diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Tidak perlu dipaksa untuk tidur siang, atau dapat diatur tidur siang lebih awal. Lakukan aktivitas tersebut secara bertahap tanpa memaksa anak.
Psi. Yelia Dini, Psikolog Klinik Kancil
Mogok Pergi Sekolah
Anak saya, Kane (2 thn 9 bulan), sempat sekolah selama 3 bulanan dan sekarang mogok pergi sekolah. Baru sampai sudah minta pulang. Kalau tidak dituruti menangis jejeritan. Kalau main di luar kelas masih mau, tapi tidak mau masuk kelas. Saya perhatikan memang speaker di kelasnya terlalu kencang. Saya sudah minta dikecilkan tapi dia tetap juga tidak mau masuk kelas. Bagaimana menghadapinya? Ada yang bilang biarkan saja menangis, besok-besok juga mau sekolah? Ada juga yang bilang tak usah dipaksa pergi sekolah, padahal pendidikan kan penting? Apa harus pindah sekolah? Saya perhatikan belakangan ini, anak saya kalau ketempat ramai pasti selalu minta digendong terus. Mohon sarannya. Terima kasih.
Yulie Perum. Taman Surya II, Jakbar
Jawaban :
Ibu Yulie, ada beberapa hal yang dapat membuat anak merasa tidak nyaman berada di sekolah, yaitu perubahan rutinitas dan jadwal yang biasanya dialami oleh anak yang baru mulai bersekolah. Misalnya jarak antara rumah dan sekolah yang cukup jauh sehingga anak harus bangun lebih pagi daripada biasanya, sulit berpisah dari orangtua atau pengasuh, serta lingkungan sekolah yang membuat anak merasa tidak nyaman misalnya pernah dijahili oleh teman, takut terhadap guru, ataupun lingkungan kelas yang kurang nyaman bagi anak seperti yang ibu gambarkan, yaitu suara speaker yang terlalu keras. Mengingat Kane baru berusia 2 tahun 9 bulan, memaksanya untuk kembali bersekolah seperti dengan membiarkannya terus menangis bukanlah tindakan yang bijak. Tindakan tersebut justru dapat menimbulkan trauma yang lebih mendalam. Pindah sekolah juga tidak selalu menyelesaikan masalah. Yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan kembali ketertarikannya pada aktivitas bersekolah. Ibu dapat mengajaknya kembali bersekolah dan mengikuti aktivitas kelompok secara bertahap. Jika ia belum siap untuk masuk kelas, biarkan ia bermain dulu di halaman sekolah. Datang lebih awal dapat membantunya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah, sehingga ia mempunyai cukup waktu untuk bermain sebelum melakukan aktivitas kelompok. Setelah itu perlihatkan aktivitas yang sedang dilakukan teman-temannya dan biarkan ia memilih aktivitas yang ingin dilakukan sambil tetap ditemani oleh orangtua atau pengasuh. Perlahan-lahan, libatkan Kane dalam keseluruan aktivitas sambil mengurangi pendampingan. Berikan reward, seperti pujian jika ia mau melakukan aktivitas kelompok. Tentunya perlu kerja sama dengan guru. Guru juga dapat melakukan kunjungan ke rumah untuk mempererat hubungan dengan Kane. Dapat juga dilakukan aktivitas bermain bersama teman sekolah di rumah agar Kane semakin mengenal teman-temannya. Seiring dengan itu, terus pantau hal yang sekiranya membuat Kane tidak nyaman, seperti kemungkinan adanya teman yang jahil dan ditakutinya, juga terus kembangkan kemandirian Kane sehingga ia terbiasa melakukan berbagai aktivitas sendiri tanpa bergantung pada orangtua atau pengasuh.
Psi. Yelia Dini, Psikolog Klinik Kancil
Apakah Anak Saya Menjurus ke ADHD
Saya ibu dari seorang putra yang sekarang berusia 30 bulan. putra saya tergolong sangat aktif, hampir semua aktivitas sehari-hari dia lakukan sambil berlari-lari. Dia selalu ingin tahu banyak hal apapun yang menurut dia aneh akan dia tanyakan pada siapapun meskipun pada orang yang tidak dia kenal. dia juga kreatif terutama dalam berbicara dan bernyanyi. dia sering mengganti ganti lirik lagu yang dia nyanyikan. pertanyaan saya apakah anak saya tergolong hiperaktif dan menjurus ke gejala ADHD / autisme, karena ada yang bilang kalau anak tidak bisa diam itu tergolong autis ? dan pertanyaan kedua anak saya juga memiliki siklus tidur yang buruk, malam dia tidur sangat larut bahkan pernah sampai jam 12 malam, paginya dia bangun jam 10 pagi, lalu sore jam 3 dia tidur lagi sampai hampir Maghrib. bagaimana menyiasati supaya pola tidurnya normal seperti anak-anak lain, mengingat saya dan ayahnya sama-sama bekerja dipagi hari sehingga kadang kami kelelahan menunggui dia di malam hari dan membiarkan dia bermain sendiri sampai tidur sendiri? Terima Kasih banyak.
Rizki Budi Prastiwi Jl. Pahlawan III/96 Probolinggo-Jawa Timur
Jawaban :
Ibu Rizky, pada usia 30 bulan berbagai kemampuan anak semakin berkembang, dari kemampuan kognitif, motorik, maupun sosial, yang membuatnya aktif bergerak dan memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai hal di sekitarnya sehingga mendorongnya untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya. Adanya kesempatan untuk bereksplorasi dapat memperkaya pengalaman anak dan menunjang perkembangan berbagai kemampuan selanjutnya. Sedangkan adanya batasan-batasan yang ketat dalam berekplorasi, misalnya selalu melarang anak, akan mengurangi inisiatif anak untuk bertindak dan membuatnya menjadi kurang percaya diri dan pasif dalam lingkungan sosial. Jadi biarkan si kecil bereksplorasi selama ibu mengatur lingkungan agar aman baginya serta menentukan batasan yang logis, seperti tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain. Mengenai gejala autism, ada tiga gejala yang perlu dicermati, yaitu: gangguan dalam kemampuan bicara misalnya keterlambatan bicara ataupun bicara dalam bahasa yang tidak dapat dipahami (bahasa ‘planet’), gangguan dalam kemampuan sosial yaitu tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain (asik dengan dunianya sendiri) atau dapat berinteraksi namun dengan cara yang tidak umum, serta munculnya tingkah laku yang bersifat repetitif misalnya seringkali berputar-putar atau mengepak-ngepakkan tangan (flapping). Sedangkan ADHD merupakan gangguan pemusaan perhatian, dengan gejala antara lain sulit memusatkan perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan termasuk dalam bermain, serta hiperaktif dan impulsif atau menampilkan tindakan yang tidak terarah dan tidak terkontrol. Ada baiknya Ibu berkonsultasi dengan psikolog terdekat untuk memastikan ada atau tidaknya gangguan perkembangan pada putra ibu. Mengenai pola tidur, tiap anak memiliki ritma tersendiri. Namun ibu dapat mengatur waktunya, misalnya membiasakannya tidur pada jam 8 malam dengan mengajaknya ke kamar, mematikan lampu, dan menghentikan berbagai aktivitas di rumah yang dapat menarik minatnya untuk bermain. Jika ia belum mau tidur, lakukan aktivitas yang bersifat tenang di kamar seperti membaca buku. Hindari bermain yang bersifat aktif menjelang tidurnya. Minum susu menjelang tidur juga dapat membuatnya lebih mudah terlelap. Waktu tidur siang juga perlu diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Tidak perlu dipaksa untuk tidur siang, atau dapat diatur tidur siang lebih awal. Lakukan aktivitas tersebut secara bertahap tanpa memaksa anak.
Yelia Dini, Psi
Mogok Pergi Sekolah
Anak saya, Kane umur 2 thn 9 bulan. Sempat sekolah selama 3 bulanan dan sekarang mogok pergi sekolah. Baru sampai sudah minta pulang. Kalau tidak dituruti menangis jejeritan. kalo main diluar ruangan kelas masih mau. Tapi tetap juga tidak mau masuk kelas. Saya perhatikan memang speaker di kelasnya terlalu kencang. Saya sudah minta dikecilkan tapi anaknya tetap juga tidak mau masuk kelas. Bagaimana menghadapi anak saya ini? ada yang bilang dibiarkan saja menangis besok-besok juga mau sekolah sendiri? ada yang bilang kalau begitu tidak usah dipaksa pergi sekolah, padahal pendidikan kan penting? Apa harus pindah sekolah? Sekalian saya perhatikan belakangan ini, anak saya kalau ketempat ramai pasti selalu minta digendong terus. Mohon advicenya. Terima kasih.
Yulie Perum. Taman Surya II, Jakbar
Jawaban :
Ibu Yulie, ada beberapa hal yang dapat membuat anak merasa tidak nyaman berada di sekolah, yaitu perubahan rutinitas dan jadwal yang biasanya dialami oleh anak yang baru mulai bersekolah misalnya jarak antara rumah dan sekolah yang cukup jauh sehingga anak harus bangun lebih pagi daripada biasanya, sulit berpisah dari orang tua atau pengasuh, serta lingkungan sekolah yang membuat anak merasa tidak nyaman misalnya pernah dijahili oleh teman, rasa takut terhadap guru, ataupun lingkungan kelas yang kurang nyaman bagi anak seperti yang ibu gambarkan, yaitu suara speaker yang terlalu keras. Mengingat Kane baru berusia 2 tahun 9 bulan, memaksanya untuk kembali bersekolah seperti dengan membiarkannya terus menangis bukanlah tindakan yang bijak. Tindakan tersebut justru dapat menimbulkan trauma yang lebih mendalam. Pindah sekolah juga tidak selalu menyelesaikan masalah. Yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan kembali ketertarikannya pada aktivitas bersekolah. Ibu dapat mengajaknya kembali bersekolah dan mengikuti aktivitas kelompok secara bertahap. Jika ia belum siap untuk masuk kelas, biarkan ia bermain dulu di halaman sekolah. Datang lebih awal dapat membantunya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah, sehingga ia mempunyai cukup waktu untuk bermain sebelum melakukan aktivitas kelompok. Setelah itu perlihatkan aktivitas yang sedang dilakukan teman-temannya dan biarkan ia memilih aktivitas yang ingin dilakukan sambil tetap ditemani oleh orang tua atau pengasuh. Perlahan-lahan, libatkan Kane dalam keseluruan aktivitas sambil mengurangi pendampingan. Berikan reward, seperti pujian jika ia mau melakukan aktivitas kelompok. Tentunya perlu kerja sama dengan guru. Guru juga dapat melakukan kunjungan ke rumah untuk mempererat hubungan dengan Kane. Dapat juga dilakukan aktivitas bermain bersama teman sekolah di rumah agar Kane semakin mengenal teman-temannya. Seiring dengan itu, terus pantau hal yang sekiranya membuat Kane tidak nyaman, seperti kemungkinan adanya teman yang jahil dan ditakutinya, juga terus kembangkan kemandirian Kane sehingga ia terbiasa melakukan berbagai aktivitas sendiri tanpa bergantung pada orang tua atau pengasuh.
Yelia Dini, Psi
Efek Samping Suplemen
Anak saya, 20 bulan, sudah tidak minum ASI. Tiga bulan kemarin saya memberinya suplemen Curcuma plus Emulsion. Karena saya merasa dengan vitamin itu anak saya tetap sering sakit, maka seminggu ini saya ganti dengan Champs Emulsion. Tapi, sudah sejak 2 hari terakhir ini, ia mengeluh badannya panas. Apakah ada efek samping dari multivitamin?
Rafika Sleman Yogyakarta
Jawaban :
Suplemen vitamin yang beredar dipasaran memang tidak membahayakan, sepanjang anak ibu sehat,tidak perlu tambahan suplemen.Tetapibila sakit beberapa hari dan nafsu makan berkurang pemberian vitamion dibenarkan. Badan panas pada anak ibu bukanb merupakan efek samping dari multivitamin, tetapi kemungkinan ada infeksi , sebaiknya anak ibu diperiksakan ke dokter anak.
Dr. Zuraida, Sp.A (K)
Feses Hijau
Anak saya, 3 bulan, sewaktu dirawat karena dehidrasi fesesnya jadi berwarna hijau, padahal sebelumnya tidak. Apakah hal itu disebabkan oleh cairan infus atau karena ada bakteri? Bahkan sekarang, setelah sampai di rumah pun, kadang-kadang masih hijau. Berbahayakah hal itu?
Dini Noviana Garut, Jawa Barat
Jawaban :
Warna hijau pada Feses anak ibu disebabkan oleh empedu yang masuk kedalam Usus.Empedu perlun untk pencernaan lemak, jadi bila makan/minum mengandung lemak, maka empedu dikeluarkan dari kandung empedu ke usus. Waktu anak ibu dehidrasi dan mendapat infus dan tidak ada makanan/ minuman dalam usus maka empedu yang terkumpul dalam kandung empedu akankeluar berlebihan. sepanjang keadaan anak ibu baik-baik saja, tidak ada masalah dengan feses yang hijau, dan tidak berbahaya.
Dr. Zuraida, Sp.A (K)
Sulit Makan
Putri saya, 2 tahun 3 bulan,susah sekali makan. Hal ini sudah terjadi sejak bayi.. Setiap hari saya hanya memberi susu formula yang dikentalkan. Itu pun harus dipaksa karena memang.susah sekali disuruh menelan makanan dan susu. Saya bingung sekali. Mohon bantuannya
Melly Bandung, Jawa Barat
Jawaban :
Pelbagai jenis penyakit memang dapat menyebabkan anak menjadi kurang berselera makan, tetapi tidak semua anak yang kurang suka makan menderita penyakit, seringkali tidak mau makan berawal pada waktu bayi yang dapat berlangsung sampai anak berumur 2 tahun bahkan sampai diatas 5 tahun. Pada waktu bayi, kesulitan minum ASI /PASI timbul bila ibu selalu memaksakan bayiny minum, sedangkan ia sudah kenyang,yang lebuih sering anak menolak makanan padat oleh karena dipaksa makan, sedangkan anak merasa sudah/masih kenyang.
Dr. Zuraida, Sp.A (K)
Sering Batuk Pilek
Anak saya sering sakit (pilek+batuk) hingga berat badannya semakin menurun, tetapi aktivitasnya tetap aktif. Apakah anak saya terkena penyakit batuk pilek kategori lama atau alergi, karena memang, anak saya memang punya bakat alergi. Obat yang diberikan dokter juga sudah dihabiskan, tetapi dia masih saja tetap sering batuk pilek. Apa yang harus saya lakukan?
Dewi Lestari Utan Panjang, Jakarta Pusat
Jawaban :
Alergi merupakan kelainan yang banyak terjadi pada anak, bayi dan anak dengan alergi cenderung lebih sering menaglami batuk pilek. Bila terkena cenderung sembuhnya lebih lama ketimbang mereka yang tidak mempunyai bakat alergi. Alergimmerupakan bakat yang dibawa sejak lahir, tetapi dengan bertambahnya usia anak penyakit alergi cenderung untuk berkurang. Tatalaksana alergi yang terpenting adalah menghindari alergen atau zat yang memicu reaksi alergi. Obat-obatan juga diperlukan untuk mengatasi alergi.
Dr. Zuraida, Sp.A (K)
Obesitaskah?
Anak saya umur 2,4 tahun punya masalah berat badan.Saat ini beratnya 25 kg. Apakah anak saya termasuk obesitas? Bagaimanakah caranyan membuat dia kurus?
Lia Karawang, Jawa Barat
Jawaban :
Bila dilihat dalam tabel/grafik tumbuh kembang anak, Ananda memang termasuk kategori di atas normal ya, Bu. Sayang Ibu tidak menyertakan tinggi badan ananda, sehingga kita tidak bisa menghitung Body Mass Index (BMI) untuk mengetahui apakah ananda obesitas atau tidak. Obesitas sangat erat kaitannya dengan pola makan dan pola gerak. Silakan Ibu perhatikan kembali pola makan dan asupan susu ananda. Apakah sudah seimbang asupannya atau belum. Demikian pula dengan pola geraknya. Apakah ananda sudah melakukan aktivitas gerak aktif (berlari, melompat, bermain sepeda, berolahraga) atau lebih banyak melakukan aktivitas gerak pasif (duduk, menonton televisi, membaca buku). Seyogyanya, asupan kalori berimbang dengan kegiatan fisik yang dilakukan. Aktivitas gerak aktif akan membakar kalori lebih banyak dibandingkan aktivitas gerak pasif. Sebaiknya Ibu mengunjungi Dokter Ahli Gizi Anak untuk mendapatkan panduan lengkap agar Ananda tumbuh sehat.
Alzena Masykouri, M. Psi
Suka Memukul
Bagaimana cara mengatasi anak batita yang sudak memukul pipi ibunya?
Kelly Bandung, Jawa Barat
Jawaban :
Terkadang anak-anak di bawah usia 5 tahun sulit untuk membedakan apakah tindakannya itu menyakiti orang lain atau tidak. Untuk itu, orang yang lebih dewasa harus mengajarkan anak bahwa tindakannya tidak tepat. Bila ananda memukul pipi Ibu, berikan reaksi yang tepat, yaitu reaksi kesakitan. Bukan reaksi tertawa karena menganggap tindakan itu lucu. Berikan penjelasan pada anak, bahwa tindakannya menyakiti orang lain dan tidak boleh diulang. Bila ananda mengulanginya, cegah jangan sampai ia melakukannya, misalnya dengan menghentikan gerakan tangannya (menangkap) dan mengatakan bahwa ia tidak boleh memukul. Kemudian, pencegahan dapat berbentuk verbal, dengan mengatakan tidak bila ananda menunjukkan keinginan untuk memukul. Konsistensi perilaku akan sangat membantu ananda untuk menunjukkan perilaku yang tepat.
Alzena Masykouri, M. Psi
Kenakalan Toddler
Bagaimana cara mengubah perilaku toddler yang seringkali membuat kenakalan. Soalnya setiap diberitahu anak itu malah tambah nakal. Selain itu, dia cepat sekali ’nyantel’nya.kalau ada ucapan yang jelek-jelek. Bagaimana ya caranya?
NN Semarang, Jawa Tengah
Jawaban :
Ibu NN di Semarang, mengasuh anak yang masih batita seringkali terasa menyenangkan karena kelakukan anak sering membuat orang di sekitarnya tertawa. Namun orangtua juga kerapkali dibuat “kesulitan” oleh karena anak masih susah diatur dan diberitahu. Anak batita senang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, sehingga terkesan mereka sering berbuat nakal. Perkembangan bicara dan bahasa mereka juga sedang berkembang pesat sehingga mereka cepat meniru ucapan di sekitar mereka.
Emosi si batita sebenarnya sedang mudah “meledak”, sehingga untuk memberitahu mana yang boleh dan tidak boleh pada mereka, diperlukan beberapa teknik agar batita mau mengerti. Anak batita belum sadar jika berbuat kesalahan, sehingga orangtua tidak boleh lantas menghukum begitu saja.
Ibu, saat si batita melanggar aturan atau melakukan kesalahan, cobalah dengan segera menegurnya tapi dengan nada yang lembut. Coba cari tahu alasan mengapa ia melakukannya. Bisa jadi ia merasa bosan sehingga kita perlu menciptakan kegiatan-kegiatan menarik bagi si buah hati. Selain itu, beritahu sebab-akibat mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan, sehingga lama-lama anak pun akan mengerti mengapa hal tersebut dilarang. Jika si batita tidak menggubris kata-kata kita, kadang ada baiknya membiarkan dia menerima konsekuensinya ketimbang dimarahi. Namun ibu dapat menimbang perilaku mana yang cukup aman bila dibiarkan dan mana yang tidak. Selain itu, bersikaplah konsisten dalam menerapkan aturan dan hindari konsekuensi yang bersifat fisik.
Mona Octaviany Siregar, MPsi, Klinik Kancil
Sulit BAB
Keira, putri pertama saya (20 bulan), ada masalah dengan buang airnya; selalu keras, dan sepertinya sakit. Lama-kelamaan dia jadi trauma untuk mengejan. Sampai pernah ada daging kecil yg keluar di (maaf) anusnya karena saking kerasnya. Saya sudah mencoba berbagai obat, dari obat pencahar, sampai antibiotik untuk mengatasinya, tapi tetap tidak ada yang bisa membantu. Kasihan sekali dia setiap hari sakit perut, tapi susah untuk mengeluarkannya. Mohon bantuan dokter.
Kania Wirmeyn Cileduk, Tangerang
Jawaban :
Masalah sulit buang air besar yang merupakan kasus konstipasi kronik, sebagian besar (90-95%) merupakan konstipasi fungsional, hanya 5-10% yang mempunyai penyebab organik. Sudah berapa lama anak ibu bermasalah dengan BAB-nya? Konstipasi akut terjadi bila keluhan kurang dari 1-4 minggu, sedangkan konstipasi kronik bila keluhan sudah lebih dari satu bulan.
Penyebab akut yang paling sering adalah fungsional, luka pada anus, infeksi virus, diet dan obat. Hal ini dapat dipicu oleh faktor diet, bila diet mengandung banyak susu, rendah buah dan sayuran (asupan serat), kurang minum, atau akibat pengalaman nyeri pada BAB sebelumnya yang biasanya disertai luka pada anus.
Bila konstipasi menjadi kronik, terjadi reteusi tinja, nyeri perut dan kembung, yang sering kali hilang setelah BAB. Biasanya terjadi amoreksia (tidak nafsu makan) dan kenaikan berat badan kurang.
Tatalaksana konstipasi fungsional meliputi evakuasi tinja sebelum terapi rumatan. Terapi rumatan untuk pencegah kekambuhan, yaitu dengan diet modifikasi perilaku dan laksatif.
Dianjurkan banyak minum dan makan yang mengandung karbohidrat dan serat. Modifikasi perilaku dan toilet training juga penting, serta dianjurkan buang air besar setelah makan pagi dan malam hari. Beri waktu 10-15 menit bagi anak untuk buang air besar. Obat yang dapat diberikan laktulosa atau sorbital dalam dua kali pemberian. Bila belum ada respon, dapat ditambah cesapride selama 4-5 minggu. Mungkin diperlukan terapi selama beberapa bulan. Bila BAB telah normal, terapi ruwatan dikurangi kemudian dihentikan. Karena keluhan ini dapat kambuh kembali, maka perlu pengamatan jangka panjang.
Dr. Zuraida, SpA(K), Klinik Kancil
Tidak Naik Kelas
Anak perempuan saya ( 38 bulan ) sudah sekolah preschool sejak umur 2 tahun. Di akhir tahun ajaran, teman-temannya naik kelas, sementara anak saya tidak. Menurut gurunya, hal itu dikarenakan anak saya belum bisa diatur. Apa yang harus saya lakukan ?
Eka Kemayoran, Jakarta Pusat
Jawaban :
Apakah tingkat lanjutan dari preschool di sekolah anak Ibu? Jika TK, maka ada beberapa pertimbangan yang mungkin dilakukan oleh guru. Untuk memasuki TK, anak sebaiknya sudah memiliki persyaratannya, seperti kemandirian pengetahuan dasar dan lainnya.
Orangtua memiliki hak untuk menanyakan secara rinci apa yang dirasakan kurang oleh guru dan pendapat guru tentang cara meningkatkan “bisa diatur”. Jika orangtua tidak puas, orangtua dapat berkonsultasi ke psikolog anak. Orangtua dapat konsultasi mengenai kematangan sekolah pada psikolog.
Edward Andriyanto M.Psi, Klinik Kancil
Cari Perhatian
Saya mempunyai seorang anak batita berumur 2 tahun. Menurut saya, kemampuannya dalam berbahasa sangat bagus, karena dia mengerti apa yang diucapkan oleh semua orang. Tetapi, untuk mencari perhatian orangtuanya, seringkali dia melakukan hal yang justru saya larang. Misalnya, sengaja pipis di celana di depan saya, sementara jika kami bekerja dia tahu dan mau pipis di toilet. Hal ini saya ketahui dari pengasuhnya dan orangtua saya. Terus terang saya bingung karena masih banyak hal yang saya larang tapi malah dia lakukan. Untuk diketahui, dia juga mempunyai seorang adik berumur 3 bulan yang masih saya beri ASI. Apakah ada kemungkinan dia cemburu pada adiknya?
Heppy Sitorus Kalipasir, Jakarta Pusat
Jawaban :
Bunda Heppy, selamat atas kehadiran anggota baru dalam keluarga. Membaca cerita Bunda mungkin sekali kakak mengalami kecemburuan pada sang adik. Melihat begitu banyak perhatian dan waktu yang Bunda berikan kepada adik membuat kakak merasa tersisihkan. Akibatnya, kakak mulai mencari perhatian dengan melakukan hal-hal yang dilarang, karena (menurut kakak) hanya dengan cara itu ia mendapatkan kembali perhatian ibunya walau dalam bentuk negatif.
Di usianya yang 2 tahun cobalah ajak bicara si kakak dengan bahasa sederhana. Jelaskan bahwa Bunda menyayangi kakak sama seperti Bunda menyayangi adik. Sampaikan keterbatasan-keterbatasan adik yang ia lihat agar kakak lebih mengerti. Agar Bunda tidak kerepotan, tidak ada salahnya berbagi pengasuhan adik kepada pengasuh sehingga Bunda bisa menghabiskan waktu juga dengan kakak. Lalu, jangan segan-segan untuk melibatkan kakak dalam mengasuh adiknya. Misalnya, meminta kakak mengambilkan popok adik yang bersih, membelai adik, mendorong kereta bayi saat berjalan-jalan, dan lain-lain. Hal ini mampu menumbuhkan perasaan dekat antar anak-anak. Jangan lupa, selalu beri pujian dan tunjukkan kebanggaan Bunda bila kakak melakukan perilaku-perilaku yang memang diharapkan. Salam hangat!
Tia Rahmania, M.Psi, Klinik Kancil
Sukar Beradaptasi
Anak saya laki-laki 2 tahun sukar beradaptasi. Jika dibawa ke tempat yang ramai misalnya, arisan atau kumpul dengan keluarga, dia tidak berani dan menangis. Bagaimana ya sebaiknya?
Euis Marlina Sukabumi, Bandar Lampung
Jawaban :
Kemampuan adaptasi anak selain karena faktor pembiasaan dari lingkungan, juga bisa karena faktor bawaan. Ada anak yang membutuhkan waktu lama dalam beradaptasi, dan cenderung sulit merasa nyaman dengan lingkungan baru. Anak Bunda yang berusia 2 tahun tersebut barangkali termasuk anak yang tidak bisa segera beradaptasi dengan situasi baru, dan membutuhkan waktu lebih lama dibanding anak lainnya. Secara lebih khusus adalah situasi baru dengan suasana ramai dan berbeda dengan situasi rumahnya.
Bila demikian halnya, akan baik sekali bila Bunda tidak putus asa dan tetap menyertakan anak dalam arisan dan kumpul keluarga. Akan baik bila sebelum hari H, anak diberi informasi terlebih dahulu. Gambarkan bahwa pada hari tersebut anak akan karena bertemu dengan keluarga atau orang-orang banyak. Gambarkan hal-hal positif dan menyenangkan yang akan mungkin terjadi, makan makanan yang enak, bertemu dengan Opa atau Oma, dan lain-lain. Informasi positif yang berulang-ulang disampaikan akan masuk ke dalam kognitif anak dan akan membuat anak jauh lebih siap masuk dalam situasi baru.
Pada saat hari H nanti, mengertilah bila pada awalnya anak agak segan masuk suasana tersebut. Tunjukkan pengertian melalui kalimat bahwa Bunda mengerti saat ini barangkali anak masih merasa malu dan sebagainya. Lalu, coba alihkan perhatian anak pada hal lain yang menyenangkan. Semakin sering anak menemui suasana ramai ditambah persiapan informasi sebelumnya, semakin mampu anak meningkatkan kemampuan adaptasinya. Salam!
Tia Rahmania, M.Psi, Klinik Kancil
Takut Naik Kendaraan Umum
Anak saya berumur 2 tahun 3 bulan, jika bepergian naik kendaraan umum (angkot, bis dan taksi) selalu ketakutan mau turun dan kadang-kadang
mengamuk. Biasanya saya selalu bujuk dan ajak bicara terus sehingga
dia lupa untuk turun dari kendaraan. Bagaimana cara tepat mengatasi
ketakutannya?
Julie Wisma KGBI, Sudirman, Jakarta Selatan
Jawaban :
Salam, Ibu Julie
Jadi si kecil takut naik kendaraan umum dan selalu minta turun, begitu, bu?
Apakah bila naik kendaraan pribadi tidak ada masalah? Hmm, kasusnya kurang
begitu jelas ya, Bu. Begini, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah
ananda tidak merasa nyaman dalam kendaraan. Saya tidak tahu apakah ananda
sering mabuk perjalanan atau tidak. Tapi, bagi sebagian anak, berada dalam benda
yang bergerak (kendaraan bergerak) akan membuat sensoriknya tidak nyaman dan
kondisi badannya pun tidak enak (pusing, mual). Pada anak kecil (balita), reaksi
ketidakenakan ini bisa tampil dalam bentuk yang tidak tepat, misalnya karena mual jadi
mengamuk.
Kemungkinan kedua adalah ananda tidak merasa nyaman di tempat umum, atau di luar lingkungan yang biasa ia temui. Apakah ini berlaku pada situasi non kendaraan, saya tidak dapat informasi. Mungkin ibu perlu amati dahulu penyebab dari ketakutan ananda. Jika memang karena suasana atau orang-orang baru yang ditemuinya, berarti ananda harus diberi banyak kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang baru.
Sikap tenang dan tidak panik atau cemas dari orangtua, terutama ibu, akan sangat
membantu ananda untuk meredakan kecemasannya sendiri. Beri anak 'kenyamanan' dengan misalnya memegang tangan Ibu, katakan, "Nak, Ibu tahu kamu merasa tidak
nyaman, pegang tangan Ibu ya," Dengan demikian, anak tahu bahwa ada 'cara' untuk mengatasi rasa tidak nyamannya. Semoga berhasil!
Alzena Masykouri, Msi, Klinik Kancil
Mainan Kreativitas
Untuk menstimulasi kreativitas anak laki-laki saya (3 tahun), saya membelikan balok susun. Tapi sepertinya dia kesulitan dan tidak punya banyak ide untuk memainkan balok-balok tersebut. Kalau diberi contoh, dia bisa mengikuti, tetapi untuk membentuk sendiri suatu objek, dia tidak bisa melakukannya. Apakah anak saya tidak kreatif? Apa yang seharusnya saya lakukan?
Yetty R Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Jawaban :
Ibu Yetty, permainan balok membutuhkan pengetahuan dan imajinasi. Putra Anda sepertinya tidak suka membuat bentuk-bentuk dengan mencontoh objek di kehidupan nyata, sehingga Anda perlu ”memperbaiki” kreasinya. Beri bantuan agar ia dapat mengembangkan imajinasinya. Namun ketika anak berimajinasi dengan balok-balok, jangan batasi dengan menetapkan satu cara yang menurut Anda benar. Bila dipaksakan, aktivitas yang seharusnya menyenangkan malah dapat membuat anak menjadi stress.
Tips untuk membantu menginspirasi anak saat bermain:
Tunjukkan dan amati suatu objek bersama-sama (misal, mobil pemadam). Ketika anak sedang tidak memiliki kegiatan, Anda dapat menyarankan membuat benda tersebut (”Ingat mobil pemadam yang pernah kita lihat, ayo kita coba membuatnya bersama-sama”).
Berbagai jenis buku cerita yang imajinatif dapat menjadi sumber inspirasi anak. Anda dapat memberi beberapa saran (”Ayo buat taman impian seperti di buku yang kita baca”). Cerita yang dibaca bersama dapat juga menginspirasi anak untuk membuat ceritanya sendiri ketika tengah bermain balok. Anda dapat mengarahkannya dengan memberi contoh.
Saat memberi contoh pada anak, minta dia untuk memodifikasi apa yang sudah Anda buat, atau buat sesuatu bersama secara bergantian, atau buat bagian berbeda pada saat bersamaan. Dengan begitu anak tidak merasa harus membuat sesuatu yang sama persis dengan contoh yang Anda berikan, dan merasakan dukungan Anda terhadap imajinasinya.
Kayee Man, Art Explore
Salahkah Memukul Anak?
Anak saya laki-laki berusia 2 tahun sedang aktif-aktifnya, rasa ingin tahunya besar sekali dan belum tahu akan bahaya. Begitu aktifnya, ketika dilarang dia suka melawan dan tidak peduli dengan larangan tersebut. Apabila sudah kelewatan, saya pun suka menyentil atau memukul tangannya pelan-pelan. Tetapi akhirnya dia akan membalas memukul saya. Apakah salah tindakan menyentil/memukul tangan anak saya? Apa yang harus saya lakukan jika larangan saya tidak didengar meskipun larangan tersebut saya sampaikan secara baik?
Bonnie C Cengkareng, Jakarta Barat
Jawaban :
Ibu dan Ayah, Memiliki putra atau putri berusia dua tahun memang boleh dibilang masa-masanya banyak orang tua mulai sering kehilangan kesabaran. Bagaimana tidak, mulai tumbuh rasa ingin tahu sehingga segala sesuatu disentuh, maunya serba dituruti sementara kemampuan mereka mengungkapkan keinginan masih sangat terbatas, beberapa dari mereka bahkan mulai menentang. Nah, hati-hati… si dua tahun adalah peniru yang ulung. Ibu sudah mengalaminya sendiri bukan, balas dipukul? Di usia ini anak cenderung meniru orang dewasa. Jika melihat orang dewasa memukul, dia ikut memukul tanpa tahu alasannya.
Boleh-boleh saja marah, tapi sebaiknya hindari melakukan kekerasan fisik pada anak. Memang, banyak di antara kita yang masih berpikir, hukuman fisik merupakan cara efektif untuk mendisiplinkan anak. Memukul, menjewer, atau mencubit menjadi “favorit”. Sayangnya pesan yang sesungguhnya ingin kita sampaikan tidak akan sampai ke anak. Yang terekam hanyalah pukulan, jeweran, atau cubitan yang mereka terima, bukan alasan yang melatarbelakanginya.
Anak-anak yang sering mendapat pukulan banyak yang kemudian menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan persoalan, ada pula memilih menghindar ketika berada dalam situasi yang kurang nyaman karena merasa kurang PD, sulit untuk percaya pada orang lain sehingga kesulitan dalam menjalin hubungan, dan di usia sekolah banyak pula yang prestasi belajarnya kurang menonjol.
Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan…
Coba untuk "mengalihkan" ketika ia mencoba melakukan sesuatu yang berbahaya dengan mengajaknya melakukan hal lain yang menyenangkan.
Untuk anak yang cukup besar, ajak berdiskusi dan jelaskan kenapa ia tidak boleh melakukan suatu perbuatan. Perlihatkan akibat dari tindakannya.
Jika merasa benar-benar sangat marah dan nyaris tidak bisa “mengontrol diri”, tenangkan diri dan menjauhlah sementara dari anak. Atur napas, cuci muka, atau kerjakan sesuatu yang membuat sejenak melupakan kemarahan. Tapi, segera tangani kembali persoalan jika telah berhasil menenangkan diri supaya tidak kehilangan moment. Bisa dengan diskusi, membaca bersamanya buku yang menyiratkan hal senada, dst.
Irma Sukma Dewi, Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia
Sekolah Nasional vs Sekolah Internasional
Anak saya sekarang umur 3 tahun,sekarang dia bersekolah di playgroup/preschool internasional berbahasa Inggris. Rencananya dia akan bersekolah disana sampai TK B/ K2 (umur 6tahun). Yang saya ingin tanyakan, apabila pada saat sekolah dasar saya mau memasukkan ke sekolah biasa/nasional, apakah nanti anak saya akan kesulitan untuk mengikutinya? Apakah lebih baik saya memasukkan dia di TK biasa/nasional saja supaya dia lebih gampang mengikuti?
Allie Harareth Pondok Indah, Jakarta Selatan
Jawaban :
Secara umum, tujuan pra sekolah adalah memberikan stimulasi secara optimal kepada anak melalui kegiatan bermain dan eksplorasi dalam suasana yang menyenangkan. Sepanjang anak Ibu merasa nyaman di play groupnya sekarang, artinya anak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang ditawarkan sekolah, merasa senang dan bersemangat, mengisi waktunya secara positif, maka sewajarnya kita bersikap tenang. Namun jika sebaliknya, maka perlu dievaluasi lebih lanjut. Terkait dengan tujuan Ibu untuk memasukkannya ke SD nasional, menurut hemat saya tidak masalah jika ia beraktivitas di play group internasional (terlepas dari masalah budget). Mengingat persyaratan untuk masuk sekolah dasar adalah mengenai kemampuan membaca, menulis, kematangan emosi dan keterampilan sosialnya. Tentunya, di play group dan TK Internasional yang diikuti juga akan menyiapkan anak sampai tahap tersebut. Semoga Ibu dan buah hati dapat mengoptimalkan diri pada program-program yang ditawarkan play group dan TK sehingga ia dapat lebih terampil dan siap masuk sekolah dasar.
Ulfa Mahmudah, M.Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia
Prebiotik & Probiotik
Saya Ibu dari Seorang Putri yang berumur dua tahun. Saya sering mendengar istilah prebiotik dengan probiotik. Kira-kira apa perbedaannya dan kegunaan dari masing-masing zat tersebut untuk daya tahan tubuh anak saya. Lalu bagaimana cara yang dapat saya lakukan untuk tetap menjaga daya tahan tubuh anak saya.
Cordelia Febrina Kuningan, Jakarta
Jawaban :
Ibu, seperti kita ketahui dalam kondisi normal usus besar kita secara natural dihuni oleh banyak bakteri, yang dibutuhkan tubuh untuk sistem pencernaan diantaranya untuk pembentukan feses dan vitamin K. Sebagian besar bakteri tersebut adalah bakteri baik (tidak pathogen) yang juga berperan dalam pembentukan sistim pertahanan tubuh, menurunkan beratnya reaksi alergi makana, dan mengurangi intoleransi makanan. Prebiotik adalah zat-zat nutrisi (frukto-galakto-oligasakarida) yang dikonsumsi oleh bekateri yang baik di usus manusia, sedang probiotik adalah kuman-kuman yang baik tersebut (bifidus, laktobasilus, asidofilus). Dengan meningkatnya populasi bakteri yang baik tersebut diharapkan imunitas anak akan meningkat sedang kejadian alergi dan konstipasi (sembelit) menjadi berkurang. Disamping pre- dan pro- biotik di atas, menjaga daya tahan tubuh anak secara umum dapat dilakukan dengan pemberian diet yang bergizi dan seimbang,. Aktivitas fisik yang memadai yang disertai dengan istirahat yang cukup.
dr. Lineus Hewis, SpA, The Jakarta Women and Children Clinic
Demam & Perkembangan Otak
Saya Ibu dari seorang Putra yang berumur tiga tahun, saya ingin menanyakan apakah jika anak sering demam akan berdampak terhadap perkembangan otak/ kecerdasan dan pertumbuhannya? Sebenarnya apa penyebab penyakit demam? Apakah benar bahwa susu yang bagus untuk perkembangan otak anak apabila mengadung AA dan DHA? Bagaimana penyerapannya? Apa saja makanan yang mengandung AA dan DHA selain terdapat di dalam susu tertentu? Terimakasih atas perhatiannya
Lenny Ciputat, Jakarta Selatan
Jawaban :
Ibu, demam secara umum tidak akan berdampak langsung pada perkembangan kecerdasan anak, bila infeksinya tidak mengenai otak ataupun mengakibatkan kejang yang lama dan berulang. Namun bila anak terlalu sering terserang penyakit maka pasti akan berkurang peluangnya mengeksplorasi lingkungannya yang pada akhirnya berdampak pada perkembangannya. Pertumbuhan anak mungkin akan lebih dahulu terpengaruh karena anak sakit biasanya juga akan berkurang nafsu makannya sehingga sulit meningkatkan berat badannya disamping pertambahan tinggi yang sangat dipegaruhi oleh gerakan anak juga dapat berpegaruh. Demam bukanlah penyakit, demam adalah salah satu gejala penyakit. Penyakit-penyakit infeksi, kolagen/autoimun, keganasan atau kanker adapat bermanifetasi dengan demam. Susu yang baik adalah susu yang menyerupai ASI. AA/DHA merupakan asam lemak yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan jaringan saraf otak, yang dapat diserap dengan baik bila diberikan dalam susu. Selain susu, makanan yang kaya akan omega-3 dan omega-6 seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan laut, daging, telur, minyak bunga kanola, matahari dan wijen.
dr. Lineus Hewis, SpA, The Jakarta Women and Children Clinic
Cara Memanfaat Masa Emas Anak
Saya Ibu dari seorang anak berusia tiga tahun. Saya banyak membaca bahwa usia 0-5 tahun adalah usia emas anak. Benarkah demikian, lalu bagaimana cara memanfatkan dengan baik usia emas tersebut? Bila orangtua tidak dapat memasukan anak ke sekolah bagus seperti preschool, lalu bagaimana caranya agar tetap bisa mencerdaskan anak tanpa preschool, tapi dengan belajar di rumah bersama ibu. Apa saja hal penting yang perlu ibu ajarkan kepada anak pada usia tersebut?
Lina Jakarta Selatan
Jawaban :
Anak biasanya dapat mendefinisikan kehidupan sejak dari umur 0-7 tahun. Sedangkan Perschool merupakan sebuah tempat pembelajaran kepada anak, dimana mereka belajar untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti pendidikan formal. Disini anak akan mengembangkan kemampuan kognitif (intelektual), fisik, sosial dan emosional. Kemampuan kognitif dapat meningkatkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, bahasa, keingintahuan, imajinasi dan semangat pembelajar sejati. Kemampuan fisik akan meningkatkan kemampuan motorik anak, koordinasi tangan dan fungsi koordinasi indera peraba dan perasa dan kelima indera lainnya. Kemampuan sosial dan emosional anak akan mengembangkan kemampuan mengenal aku diri sehingga dapat mengelola potensi dan bakat yang dimiliki, membina hubungan dengan orang lain, mengekspersikan perasaan, dan dapat mengontrol diri sendiri. Dan semua kemampuan ini sebetulnya juga dapat Ibu dikembangkan di rumah.
Berikut ini beberapa ide untuk tumbuh kembang anak:
Pengembangan kognitif:
Orangtua dan anak dapat membaca buku bersama. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain melihat gambar-gambar yang ada sambil menceritakannya dan setelah itu anak dapat berdiskusi bersama orangtua atau menceritakan ulang menurut bahasanya. Selain membaca, Anda juga dapat melakukan kegiatan story telling bersama anak, bahkan melakukan aneka kegiatan bersama anak. Sebagai contoh, Bila Anda akan mengajak anak belajar memasak di dapur, Anda dapat melakukan kegiatan memasak yang menyenangkan bersama anak, seperti membuat bola-bola dari nasi, mencuci sayuran, atau mengukur takaran air pada beras di rice cooker. Kegiatan ini amat natural dan dapat membantu anak untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan kosakatanya, dapat juga dimanfaatkan untuk mengajarinya pandai berhitung, dengan memberinya beberapa buah kasus, atau soal cerita yang dapat dijawab dan dipraktikan bersama dengan Anda. Untuk itu, kegiatan lain yang perlu dilakukan bersama seperti pergi ke supermarket sambil belajar berhitung dan mengenal uang. Permainan lainnya, yaitu bermain buka tutup atau permainan yang banyak mengunakan tangan maupun bermain role play. Role play merupakan permainan yang baik untuk mengembangkan daya imaginasi anak. Sebetulnya masih banyak aneka permainan lain yang dapat Anda kembangkan setiap harinya. Hal lainnya Anda juga harus mencari atau menciptakan suasana yang variatif dalam mengembangkan kemampuan anak.
Kemampuan fisik:
Melompat, berlari, menyanyi, berguling, melempar dan menangkap merupakan bentuk latihan fisik yang mungkin dapat Anak lakukan untuk mengembangkan kemampuan fisiknya. Cara lainnya, membuat anak aktif mengerakan jari jemarinya dengan kegiatan memindahkan barang, atau menyusun barang, mengambar, mewarnai, bahkan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti makan sendiri, membuang sampah pada tempat sampah, memakai baju, mengikat sepatu, bahkan menabung di celengan. Dan bila kemampuan anak semakin handal, anak dapat Anda ajarkan mengunting dan menulis. Sementara itu untuk mengembangkan indera perasa pada anak (mendengar, melihat, menyentuh, tersenyum dan merasakan) Anda dapat mengajarkan anak untuk mengunakan alat yang berbeda sentuhan dan cara merasakannya. Sebagai contoh Anda dapat memberinya sebuah bunga, dan minta ia untuk menyentuhnya, menyium baunya, dan mengajukan pertanyaan seputar bunga yang dipegangnya. Contoh pertanyaannya yaitu, seperti apa rasanya bila dimakan, bagaimana tekstur daunya, kasarkah ketika di sentuh? Hal lain yang dapat Anda lakukan yaitu memperdengarkan berbagai suara kepada anak, agar anak bisa mengenali suara tersebut sekaligus mengetahui perbedaan bunyinya. Pada intinya, latihan fisik ini menjadikan anak tumbuh menjadi anak yang sehat. Namun Anda juga jangan pula mengabaikan pola makan yang sehat dan seimbang serta kepastian anak untuk dapat tidur dengan nyenyak.
Kemampuan Sosial dan Emosional:
Anak-anak biasanya amat suka menjadi pusat perhatian. Sebagai orangtua Anda harus bersikap pengertian dan bersabar atas segala tindak tanduknya. Jangan pernah sekalipun Anda memarahi anak, Namun anda dapat bersikap tegas terhadapnya dengan mengarahkan dan menanamkan nilai serta moral, terutama nilai untuk saling berbagi dan mengembangkan sikap toleransi. Mengarahkan dengan contoh merupakan hal yang paling efektif. Sebagai contoh, bila Anda membeli sepotong kue, Anda dapat memotong kue tersebut menjadi dua, potongan pertama untuk Anda dan potongan kedua diberikan kepada anak. Begitu juga bila Anda ingin mengajarkan sikap untuk selalu mengucapkan terimakasih kepada setiap orang yang telah membantu pekerjaan anak, Anda pun harus mencontohkan dengan selalu mengucapkan terimakasih kepada anak setelah selesai membantu Anda. Selain contoh, Anda juga dapat mengarahkan anak untuk memiliki banyak sahabat. Caranya dengan mengajak teman-teman sebaya anak untuk bermain di rumah Anda. Dengan demikian, anak akan belajar bersosialisasi. Selain itu Anda pun dapat mengarahkan anak agar dapat mengontrol emosi dan perasaan. Sebagai contoh, anak tiba-tiba mengamuk dan ia mulai membanting benda-benda di sekitarnya. Anda dapat memberikan penjelasan kepada anak dengan cara menasehatinya dengan nasehat yang baik, seperti ” Mama tahu kamu sedang marah, tapi kamu tidak perlu menyakiti orang lain, atau merusak sesuatu. Bagaimana bila kamu marah, kamu tidak membanting, tapi bisa melompat-lompat biar kamu bisa tumbuh tinggi, jadi bukan emosi yang meninggi”.
Latihan kesabaran merupakan suatu keharusan, dapat tahap pembelaran ini. Ingatlah kata pepatah cina berikut ini, ”Saya dengar dan saya lupa. Saya lihat dan saya ingat, saya lakukan maka saya mengerti”. Bermain dan berinteraksilah Anda bersama anak, ciptakan banyak kesempatan untuk bermain sambil belajar dan membuat hari-harinya penuh makna.
Ani Khairani, M.Psi, Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia