Anak Penderita Bipolar Berisiko Sakit Kejiwaan 27 April 2009Pittsburgh – Sebuah laporan menyatakan, anak-anak dari orangtua yang mengidap bipolar disorder memiliki risiko tinggi memiliki kelainan kejiwaan . Penemuan ini, “mengindikasikan adanya kebutuhan akan identifikasi dan perawatan dini untuk anak-anak tersebut,” kata Dr. Boris Birmaher, dari the University of Pittsburgh Medical Center, dan rekan kerjanya dalam artikel yang dimuat dalam jurnal Archives of General Psychiatry.
Bipolar disorder, yang juga dikenal sebagai depresi berlebihan, pada umumnya menyebabkan perubahan perasaan (mood) yang drastis – bisa dari depresi ekstrim yang tak tertahankan tiba-tiba berubah menjadi gembira yang berlebihan.
Penelitian terhadap anak-anak pengidap bipolar disorder di Pittsburgh itu membandingkan jumlah rata-rata kelainan kejiwaan pada 388 anak dari 233 orangtua pengidap bipolar disorder, dengan 251 anak dari 143 orangtua bukan pengidap bipolar disorder. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak dari orangtua pengidap bipolar disorder memiliki kemungkinan 13 kali lebih besar mengembangkan perilaku seperti bipolar disorder, dibanding anak-anak dari orangtua tanpa bipolar disorder. Sama halnya, memiliki orangtua pengidap bipolar meningkatkan kemungkinan memiliki kelainan mood sebanyak lima kali lipat.
Dari sepuluh keluarga dalam penelitian tersebut, dua pasang orangtua diantaranya memiliki bipolar disorder. Diantara anak-anak penderita bipolar disorder, risiko terkena kelainan tersebut 3,6 kali lebih tinggi saat kedua orangtua memiliki kelainan tersebut, dibanding hanya salah satu orangtua saja. Lebih dari tiga perempat anak-anak yang mengembangkan kelainan tersebut mengalami perubahan mood sebelum mencapai usia 12 tahun.
“Hampir setengah dari anak-anak dengan orangtua mengidap bipolar disorder belum mendapatkan diagnosa penyakit kejiwaan. Namun terdapat kebutuhan dan kesempatan besar untuk melakukan pencegahan awal pada kelompok berisiko tinggi ini,” tegas Birmaher.(Reuters/ndh).
|